Popular Posts

Saturday, March 31, 2018

IN-DEPTH: Sisi Lain Dari Kisah Si Anak Broken Home

Credit: pinterest.com

Resiliensi ialah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dalam kondisi sulit dan bangkit kembali dari pengalaman emosional yang negatif. Faktor dominan kerentanan psikologis terhadap anak salah satunya selalu bermula dari keluarga yang rentan, yang tak punya komitmen dan kesadaran. Sehingga anak tidak mendapatkan role model sebagai teladan.
JAKARTA- Seorang remaja wanita dengan hoodie putih masih mengeluarkan gelak tawanya saat menceritakan keadaan keluarganya. Berbanding terbalik dengan remaja wanita lainnya berbaju hitam, dia terkesan lebih pendiam dengan sorot mata mengawang jauh saat menceritakan kisah keluarganya. Kedua remaja wanita itu diketahui bernama Liza (19) dan Maria (20). Mereka merupakan remaja-remaja yang mengalami keadaan keluarga tidak harmonis (broken home) sedari kecil.
Kalau Liza (hoodie putih) saat ini menjadi hak asuh bagi ayahnya, maka lain halnya dengan Maria (baju hitam) yang menjadi hak asuh bagi ibunya. Di balik penampilan mereka yang tak ada bedanya dengan remaja kebanyakan, terdapat kerentanan psikis dalam hal menahan dan mengatur emosi bagi diri mereka sendiri. Sifat pemarah dan keras kepala adalah salah satu kebiasaan yang sulit mereka tahan. Tak heran karena emosi diri inilah yang terkadang membuat mereka sulit untuk bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan sosial.
Kisah Liza dan Maria merupakan contoh nyata bagaimana kehancuran keluarga membawa dampak pada psikis pada remaja dan penting untuk diberi perhatian dan penanganan lebih. Secara umum, banyak anak broken home yang belum mampu keluar dari trauma masa lalu mereka khususnya trauma akan rasa takut ditinggalkan seseorang.
Perkembangan Psikis pada anak Broken Home
Salah satu masalah dalam kehidupan yang dianggap paling berat adalah masalah yang terjadi dalam keluarga. Keluarga inti atau nuclear family adalah suatu wadah dimana anak berkembang dan bertumbuh, baik secara fisik maupun psikologis.
Broken home menurut Asfriyati (2003), (dalam jurnal Resiliensi Pada Remaja yang Mengalami Broken Home), adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan dengan rukun, damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran hingga diakhiri dengan perceraian.
Menurut Dagun (1990), (dalam jurnal Resiliensi Pada Remaja yang Mengalami Broken Home),  kondisi keluarga broken home yang mengalami perceraian dapat menyebabkan anak mengalami tekanan jiwa, aktivitas fisik menjadi agresif, kurang menampilkan kegembiraan, emosi tidak terkontrol, dan lebih senang menyendiri.
Ilustrasi Liza (19) dan Maria (20). Sumber: Babe News. 
Maria (20) mengalami broken home sejak usia tujuh bulan. Awalnya ia menyalahkan keadaan keluarganya ini kepada kedua orang tuanya. Maria juga menyatakan sangat dirugikan dengan adanya perceraian tersebut. Karena akibat dari perceraian itu, sedari kecil hingga saat ini ia kerap kesulitan untuk mengontrol emosi, selalu curiga dengan orang yang baru dikenal, sangat protektif dengan apa yang ia miliki, serta mengalami ketakutan akan ditinggalkan seseorang secara berlebihan.
Tentu perceraian mereka merugikan aku dong. Dari kecil aku secara berlebihan selalu merasa takut ditinggal, jadinya sampai sekarang malah jadi protektif banget sama keluargaku apalagi sama pacarku,” Ucap Maria.
Setali tiga uang dengan Liza (19). Mengalami broken home sejak masih mengenyam pendidikan sekolah dasar. Akibat dari perceraian kedua orang tuanya, Liza menjelaskan bahwa ia kesulitan dalam berkomitmen akan suatu hal, bahkan merasa tidak tertarik untuk melakukan pernikahan karena tidak memahami posisi serta peran seorang ibu bagi keluarganya.
Gue sekarang kan tinggal bareng papa, dan papa gue orangnya cuek. Gue juga kesulitan memahami arti berkomitmen yang sebenarnya. Jadinya dari dulu gak bisa jalanin hubungan dengan orang lain secara serius. Lagian gue kayaknya juga gak tertarik buat menikah, lah gue aja bingung dengan peran seorang ibu itu kayak gimana,” Kata Liza.
Indonesia Darurat Perceraian
Data Perceraian di Indonesia 2016. Sumber: Litbang merdeka.com
Tak banyak orang menyadari bahwa tingkat perceraian di Tanah Air merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama (dalam merdeka.com) membenarkan peningkatan tren perpisahan suami istri di negara ini. Berdasarkan data yang diperoleh sejak tahun 2010-2015, terlihat kenaikan angka perceraian mencapai 15 hingga 20 persen.
Adapun rekor angka perceraian tertinggi dalam setahun terjadi pada 2012. Kala itu palu hakim yang mengesahkan perceraian diketok sebanyak 372,557 kali. Artinya, 40 kali perceraian terjadi setiap jam di Indonesia.
Tren tersebut mengkhawatirkan pemerintah, lantaran mengindikasikan rapuhnya institusi perkawinan saat ini. Data tersebut menunjukkan sepertiga penggugat berusia di bawah 35 tahun dan sebanyak 70 persen penggugat adalah perempuan, menandakan para istri di Indonesia berani mengambil sikap jika tak bisa lagi menemukan titik temu untuk memperbaiki rumah tangga.
Maraknya pernikahan muda selama satu dekade terakhir ternyata berbanding lurus dengan tingginya perceraian. Di negara ini, mayoritas pemicu perceraian masih didominasi oleh hubungan yang tidak harmonis lagi antara suami-istri. Dampak sampingannya, yang langsung terasa, adalah gangguan psikologis bagi anak.
Resiliensi Remaja Dalam Menjalani Situasi Broken Home
Meskipun demikian, perceraian yang terjadi pada keluarga broken home tidak selalu membawa pengaruh negatif terhadap anak-anak (De Bord dalam Setyaningrum, 2007). Demo & Acock (dalam Killis, 2003) menyatakan bahwa remaja yang mengalami perceraian orang tua cenderung lebih matang dalam memahami  situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.
Resiliensi secara psikologi dapat diartikan sebagai kemampuan merespon secara fleksibel untuk mengubah kebutuhan situasional dan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman emosional yang negatif (Block & Block, Block & Kremen, Lazarus dalam Tugade, Fredrickson & Barret, 2005).
Walaupun memiliki kesulitan dalam mengontrol emosi dan membentuk karakter pada diri sendiri, Maria dan Liza nyatanya sama-sama mulai membangun resiliensi pada diri masing-masing. Hal ini bertujuan agar dapat keluar dari situasi menyakitkan yang telah mereka rasakan sejak kecil. Khususnya keluar dari pengalaman emosional negatif karena pernah merasakan ditinggalkan oleh orang yang seharusnya menjadi teladan bagi mereka.
Maria dan Liza mengatakan bahwa pernah ada terbesit niatan untuk mengakhiri hidup dikarenakan mereka merasa tidak berguna pada diri sendiri dan tidak memiliki tujuan untuk mencapai suatu hal.
Aku pernah sih pengen bunuh diri minum obat gitu. Tapi setiap mau ngelakuin, senyumnya mama tuh selalu terbayang dan akhirnya malah bikin aku gak rela juga ninggalin mama sendiri disini tanpa aku nantinya. Yah pokoknya aku belajar menjadi sosok yang lebih kuat aja berkat mama,” Ucap Maria.
Namun mereka dapat menghindari keinginan tersebut berkat orang-orang di dalam lingkungan rumah yang masih mendukung dan mencurahkan kasing sayangnya kepada Maria dan Liza.
Kalau gue dulu kan suka banget main kebut-kebutan motor bareng temen. Pernah sih kepikiran pengen nabrakin diri sendiri. Gue ngerasa udah lelah dengan masalah kayak gini. Tapi setelah ingat nenek gue yang tentunya terguncang lantaran gue cucu kesayangannya jadi gak tega juga. Gue sayang dia banget dan gak bisa kebayang kalau dia meninggal duluan nantinya. Gue malah ngerasa lebih berdosa banget kalau bikin dia sedih,” kata Liza.
Walaupun pengalaman perceraian kedua orang tua yang masih sulit  untuk dilupakan, Liza dan Maria menyatakan mendapatkan hikmah dari kejadian tersebut yaitu menjadi lebih dewasa dan mandiri daripada teman-teman seusianya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Seperti halnya Maria yang memiliki pandangan optimis mengenai masa depannya, bahwa masa depannya ada ditangannya dan ingin menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anaknya kelak, serta memberikan hal-hal yang tidak ia dapatkan dari orangtuanya pada saat ini.
Aku sih pastinya mencari pasangan yang bisa bertanggung jawab dan dewasa. Supaya apa yang aku rasain gak akan pernah dirasain anak-anakku kelak,” Ucap Maria.
Sedangkan Liza merasa usaha yang ia lakukan saat ini untuk mewujudkan masa depannya hanyalah dengan belajar, karena melalui belajar ia memiliki banyak pengetahuan yang dapat ia gunakan pada masa yang akan datang dan menjadikan dirinya sukses.
Gue punya cita-cita jadi produser TV, pengen sukses dan bikin papa sama nenek bangga lah,” Ucap Liza.
Kasus Liza dan Maria bisa jadi momentum bahwa dampak broken home tak hanya dilihat dari satu sisi saja. Kasus broken home ternyata punya sisi positif lain, yaitu remaja yang mengalami perceraian orang tua cenderung lebih matang dalam memahami  situasi yang sedang terjadi di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena remaja telah mengalami proses pertumbuhan melalui peristiwa yang menyakitkan ini.

Editor : Helvira Rosa

IN-DEPTH: "Jadi waria harus memiliki prestasi"

Credit: google.com
Tanggal 4 Maret, 2017 merupakan kali pertama Jakarta disuguhi pemandangan yang tidak biasa.
Kerumunan baju pink yang berkumpul di depan Plaza Sarinah yang terdiri dari wanita dan pria feminis, transgender, dan para penyandang disabilitas ini mengikuti aksi Women’s March untuk merayakan Hari Wanita Internasional. Bendera pelangi pun turut mewarnai aksi ini sebagai respresentasi dari kelompok LGBTQ+ Indonesia.
Seperti yang dikutip dari The Jakarta Post, aksi ini tidak hanya mengenai hak wanita. Menurut salah satu panitia, Kate Walton, aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan pesan tentang keadaan politik saat ini yang kurang memperhatikan kelompok marjinal seperti LGBTQ+, penyandang disabilitas, dan indigenous people.
Selain itu, aksi ini juga memberi pencerahan kepada masyarakat awam bahwa di Indonesia terdapat komunitas LGBTQ+ yang masih memperjuangkan hak hidup mereka agar tidak selalu menjadi korban diskriminasi dan kekerasan.
Tahun 2016 merupakan tahun yang gelap bagi kaum LGBTQ+. Dimulai dari petisi yang ditujukan kepada Mahkamah Konstitusi untuk mengkriminalisasi hubungan seksual antar sesama jenis melalui pengadaan amandemen terhadap KUHP Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292.
“Sejak awal pergerakan gay, pernikahan sesama jenis tidak pernah menjadi tujuan utama. Bagaimana bisa masyarakat LGBT Indonesia menginginkan pernikahan jenis apabila masih banyak dari mereka yang dipukuli, diganggu, dan dipecat dari pekerjaan mereka hanya karna orientasi seksual dan identitas gender mereka?” Ujar aktivis LGBT Hendri Yulius, seperti yang telah dikutip dari The Jakarta Post.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memblokir beberapa aplikasi yang dianggap sebagai safe space oleh kaum LGBTQ+ seperti Grindr, Blued, dan BoyAhoy.
Namun keadaan semakin diperparah dengan kembalinya kampanye anti-LGBTQ+ yang dilakukan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga yang melarang pemuda-pemudi LGBTQ+ mengikuti proses seleksi “Creative Youth Ambassador”, sebuah program untuk memilih masyarakat muda Indonesia untuk mempromosikan kreativitas dan kompetitif.
Serangkaian aksi diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum LGBTQ+ pun terjadi sepanjang tahun 2016.
Namun, yang paling mencengangkan adalah ketika polisi menahan pasangan gay di Sulawesi hanya karena mereka mengunggah foto mereka berdua ke situs Facebook dengan tulisan “With my dear lover tonight. May our love last forever.” Foto tersebut sontak mendapat reaksi dari orang-orang yang tidak suka dengan kaum LGBTQ+ dan melaporkannya kepada polisi setempat dengan tuduhan tindakan cabul dan pornografi.
Dikutip dari BBC, Yuli Rustinawati selaku Ketua Arus Pelangi, mengatakan, “Dalam penelitian kami, terdapat 89,3% kaum LGBT di Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar pernah mendapat perlakuan kekerasan dan diskriminasi. Tindak kekerasan kami kategorikan menjadi lima bagian, yakni aspek fisik, psikis, seksual, ekonomi, dan budaya.”
Merupakan peran pemerintah untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali masyarakat LGBTQ+ yang juga memiliki hak perlindungan dari negara.
Menurut Dede Utomo, aktivis LGBT, dikutip dari BBC, pemerintah Indonesia harus mengakui keberadaan LGBT yang juga adalah warga negara Indonesia. Diskriminasi muncul karena tidak ada peran negara. Kemudian, undang-undang yang bersifat diskriminatif terhadap keberadaan kaum LGBT harus direvisi.
Salah seorang waria, Zedina, mengaku pernah merasakan pelecehan secara verbal oleh seorang tetangga di lingkungan perumahannya. Zedina merupakan seorang waria yang bekerja sebagai lip sync di salah satu club malam di Jakarta.
Bertemu pada Rabu, (12/4/2017), di daerah Cempaka Putih, Jakarta, Zedina kala itu datang mengenakan riasan wajah tebal, jaket berwarna merah marun dan celana khaki berwarna biru langit. Kemudian ia duduk dengan anggun dibangku plastik berwarna merah dan menceritakan kembali kejadian tersebut.
“Dulu di lingkungan rumah ketika awal pindah, aku masih sering-seringnya kerja begitu. (Saya) kalau dijemput pakai mobil. Lalu waktu itu ada kejadian dijemput pakai mobil lalu pas pulang mobilnya beda (merek dan warna). Kebetulan di lingkungan itu suka ada ronda, jadi kayak bahan omongan gitu.”
Menurutnya, orang-orang membicarakannya karena kerap kali ia naik dan turun dari mobil, ia selalu mengenakan pakaian perempuan dan membawa tiga tas berisi pakaian, “Jadi kesannya kayak (saya) habis mangkal di Taman Lawang, ih amit!”
Zedina juga menambahkan bahwa ia tidak terima disebut sebagai waria Taman Lawang karena ia tidak ada kemauan untuk menjual diri dan ingin mendapatkan uang yang halal.
Zedina kenal dengan komunitas ini semenjak duduk dibangku SMA kelas 1 karena dikenalkan oleh temannya ke “Ratu” (yang ia panggil sebagai “Mama”) suatu club malam di Jakarta. Ketika bercerita tentang Mama, matanya berbinar saat mengingat pertama kali mereka bertemu,
“Bertemu di kost-an. Kalau di dunia “itu” disebutnya “Mama”. Waktu itu Mama tanya namanya siapa dan ia bilang (saya) cantik. Kemudian ditawarin untuk tes makeup,” ucapnya. Mulai dari percakapan itulah Zedina ditawari pekerjaan lip sync dan mulai menyadari bahwa ia terlihat cantik menggunakan makeup, wig, dan pakaian perempuan.
Ia mengatakan bahwa pembawaan dia sebagai seorang waria sudah ada sejak dulu, terlepas dari ia sering mengenakan makeup, wig, dan pakaian perempuan untuk bekerja.
“Waktu itu juga sudah “cong”, cuma waktu itu baru “cong” yang cowok banget. Sudah ngondek tapi masih dekil. Gak pernah pakai baju perempuan. Terus juga badan masih laki banget,” ujarnya sambil tertawa.
Kedua orang tua Zedina awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki pekerjaan disuatu club sebagai lip sync dan didandani sebagai perempuan. Pekerjaannya baru diketahui karena orang tuanya mendapat kiriman foto screenshot oleh saudaranya yang mengikuti akun Instagram Zedina.
Awalnya mereka memang tidak senang. Mereka berharap Zedina mendapatkan pekerjaan yang “benar”. Namun karena dalam dunia tersebut Zedina sudah memiliki nama, ia kekeuh untuk tetap bekerja di sana, “Jadi kalau tiba-tiba hilang begitu saja kan sama saja membuang rezeki dari Allah, kan gak boleh.”
Meskipun Zedina mengaku menyukai berdandan seperti perempuan dan merasa bahwa diri sebenarnya adalah perempuan, ia mengungkapkan kalau dia tidak akan mau merubah fisiknya menjadi perempuan.
Gue sih maunya nanti menikah saja lelaki dengan lelaki, tapi gak mau berubah. Fisiknya laki-laki tetapi cantik dan tidak maskulin. Sama sekali dari dulu tuh gak kepikiran begitu,” ujarnya.
Walaupun dirinya tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah, tetapi Zedina tetap ingin mengambil sekolah makeup karena ia teringat dengan pesan Mama yang merupakan sosok role model baginya. Menurut Mama, sebagai seorang waria mereka juga harus memiliki prestasi dan karya.
Apabila mereka memiliki bakat makeup dan bisa lip sync, menurutnya itu sudah menjadi modal mereka. Meskipun sering diolok oleh orang-orang di jalan, mereka akan tetap bangga karena mereka bukan waria pinggir jalan, “Lagian juga kan belum tentu orang yang ngatain bisa sesukses kita.”
Selain pernah mengalami pelecehan secara verbal, Zedina mengaku bahwa sewaktu masih duduk dibangku SMA pernah ada teman lelakinya yang sengaja memperlihatkan alat kemaluannya.
Gue melihat ya alhamdulillah. Lagian juga enggak diseret-seret sampai dibawa ke kamar mandi. Gak pernah sampai dibully. Ya paling kalau ditengah jalan orang mulutnya usil, “Itu cowok kayak perempuan,” begitu doang.”
Melihat aksi Women’s March kemarin, Zedina mengaku dirinya senang melihat ada banyak masyarakat yang mensupport LGBTQ+. Menurutnya, kaum LGBTQ+ bukan untuk dijauhi dan dikucili.
Menurutnya, mereka hidup masing-masing hanya saja berdampingan. Ia merasa aneh melihat orang yang menganggap kaum LGBTQ+ menggelikan. Pasalnya, banyak teman-temannya dalam komunitas tersebut merupakan pilihan dari hati.”
Diskriminasi yang dialami oleh kaum LGBTQ+ bukanlah hal lumrah yang tidak perlu dianggap serius. Masyarakat dan pemerintah harus membuka mata dan tidak bisa berkata bahwa di Indonesia tidak ada diskriminasi untuk minoritas.
Dikutip dari BBC, Presiden Jokowi menegaskan tidak perlu melakukan perubahan terhadap hukum yang ada terkait dengan pertanyaan apakah homoseksualitas akan dipidanakan di Indonesia seperti yang sekarang sedang diusahakan oleh beberapa kalangan di Mahkamah Konstitusi.
Menurutnya, jika ada kalangan minoritas yang terancam, polisi harus melindungi, “Polisi harus bertindak. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap siapa pun,” ujarnya.



Editor: Nabilla Ramadhian

IN-DEPTH: Game Online, Candunya Bikin Stres Hilang

Foto oleh Nur Azizah
JAKARTA – Ruang kelas hari itu lebih bising dari biasanya, dosen yang berhalangan hadir adalah faktor utamanya. Mahasiswa mulai saling sahut seperti tidak mau kalah, suara decit kursi sesekali terdengar disusul tawa riang mahasiswa. Namun, di tengah kebisingan tersebut ada satu mahasiswa yang tidak goyah dari konsentrasinya menatap layar laptop yaitu Arthur Nugraha Sanjaya.
Arthur (17 tahun) adalah seorang mahasiswa semester 4. Setiap harinya, ia suka menghabiskan waktu untuk  bermain game hingga lebih dari 4 jam.
Pulang dari kampus gue pasti main game. Kalau ditanya berapa lama sehari main game ya 6 sampai 8 jam gue pasti main sampai begadang, kadang tidur cuma 2 jam itu engga apa-apa yang penting gue engga stres gitu, kadang engga tidur juga besoknya ngampus lagi” ujar Arthur sambil  duduk berhadapan dengan laptopnya di kampus Universitas Bakrie, Kamis (13/04/2017).
Kegemarannya pada game bukanlah tanpa alasan, pria kelahiran tahun 1999 tersebut merasa bahwa dirinya kurang kasih sayang terutama dari keluarganya. Arthur yang saat itu memakai baju merah berkerah dipadukan dengan jaket abu-abu duduk di sudut kanan kelas. Ia menceritakan sedikit tentang keluarganya dengan sambil tersenyum tipis bahwasanya bentuk  perhatian yang diberikan oleh orang tuanya tidaklah dipenuhi dengan baik. Arthur merasa tidak dihargai dirumah, oleh karena itu ia memilih game sebagai media pelarian dari kehidupannya.
Kalo game itu ada dunianya gue pengen di dunia game aja ga usah di dunia nyata, kalo gue bilang sih gitu soalnya game itu bisa bikin gue engga stres, mungkin gue kalau di kampus sering ketawa-ketawa cuma sebenernya gue stres makanya gue ketawa-ketawa,” imbuhnya masih dengan menyiratkan senyum.
Menurut Caplan, Williams dan Yee (2009), dalam Blinka & Mikuska (2014), menemukan bahwa kecenderungan seorang gamers menjadi kecanduan game (game addiction) karena kesepian yang sebagai single predictor, diikuti dengan perasaan introvert dan depresi. American Psychiatric Association (APA)mengelompokkan bahwa kecanduan game sebagai salah satu manifestasi dari gangguan mental “Disorder Gaming Internet” (DGI) dengan ciri utamanya adalah partisipasi menetap dan terus menerus dalam game komputer, terutama jenis permainan kelompok, untuk waktu yang sangat lama.
Kisah lain datang dari pria bernama Mohammad Rafi (21 tahun) seorang mahasiswa semester 6 disebuah universitas swatsa di Cirebon. Rafi mulai kecanduan bermain game sejak SMP lewat game Point Blank. Melalui voice note WhatsApp, Rafi mengatakan rekor paling lama dalam bermain game yang pernah dilakukannya adalah 18 jam tanpa henti. Menurutnya, hal terpenting dalam game online yang dimainkannya yaitu dengan mengikuti event pada game tersebut, bahkan setiap hari selama 3 bulan ia selalu terjaga di tengah malam demi mengikuti event tersebut.
Kalau gamenya lagi ngadain event buat dapetin hadiah apa gitukan itu wajib dapetin, dibela-belain bangun jam 3 pagi. Eventnya ada juga yang diwaktu loh, cuma dibuka dijam-jam tertentu gitu kan jadi harus siap kapanpun tuh, kaya jam 3 pagi tiap hari bangun selama tiga bulan,” ujarnya dengan nada semangat.
Banyak penelitian melaporkan, pemain game online yang mengalami kecanduan internet bermain menggunakan waktu lebih dari 4 (empat) jam setiap hari. Durasi waktu yang digunakan juga semakin lama akan semakin bertambah agar individu mendapatkan efek perubahan dari perasaan. Di mana setelah bermain internet atau game online individu merasakan kenyamanan dan kesenangan. Sebaliknya, individu biasanya akan merasa cemas atau bosan ketika menunda atau menghentikan kebiasaan bermain game online.
Baik Arthur maupun Rafi memiliki kebiasaan yang sama sebagai seorang yang menggilai game. Ketika merasa stres dan butuh hiburan untuk menenangkan pikiran, mereka melimpahkan pada game. Arthur mengatakan bahwa dirinya merasa lebih ceria dan tidak emosi setelah memainkan game. Kemudian, tidak jauh berbeda dengan Arthur, Rafi pun menjadikan game sebagai media pelarian dari penatnya tugas dan masalah di kehidupan sehari-hari. Kuota internet bukan hal yang terlalu dipikirkan jika itu untuk game.
Perbedaan antara Arthur dan Rafi :
Jika dihadapkan pada situasi tidak bisa bermain game, Arthur akan tampak stres dan mudah emosi.
Gue pernah laptop sama HP rusak, PS (PlayStation) lagi engga punya juga, gue ngerasa kaya stres gitu engga main game, soalnya biasanya gue main game jadi bawaannya itu bisa marah-marah terus sama orang. Merasa tertekan kaya gitu pernah gue marah-marah sama temen sama mamah.” Katanya dengan cara bicaranya yang santai.
Sementara itu, Rafi berusaha untuk lebih tenang meski merasa cemas saat tidak bermain game. Rafi beralasan tidak ingin mencampur adukkan dirinya di dunia nyata dengan dirinya di dunia game.
Game itu sebagai tempat pelarian diri, itu benar. Tapi ya kaya punya kehidupan masing-masing gitu jadi ada Aku yang di dunia game dan Aku yang didunia nyata itu engga akan aku campur adukin gitu.” Ujarnya saat wawancara lewat voice note.
Hasil penelitian Yang (2005) pada siswa yang mengalami kecanduan internet di Korea menunjukkan bahwa siswa dengan kecanduan internet dengan mudah dipengaruhi oleh perasaan, emosional, kurang stabil, imajinatif, tenggelam dalam pikiran, mandiri, bereksperimen, dan lebih memilih keputusan sendiri (Cao & Su, 2006). Maka tidak heran jika anak dapat mengalami kecanduan karena pengaruh dari kekuatan game. Pemain seperti tidak dapat berhenti ketika sudah mulai bermain game. Kriteria ini sering disebut dengan tolerance.
Data Penggunaan Internet dan Game Online di Indonesia
Berdasarkan data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mengumumkan bahwa jumlah pengguna Internet di Indonesia tahun 2016 adalah 132,7 juta user atau sekitar 51,5% dari total jumlah penduduk Indonesia sebesar 256,2 juta. Jika dibandingkan pada tahun 2014 sebesar 88,1 juta user, maka terjadi kenaikkan sebesar 44,6 juta dalam waktu 2 tahun (2014 – 2016).
Sementara itu, untuk pengguna online Newzoo pada 2015 merilis bahwa Indonesia menghasilkan pendapatan sebesar USD321 juta dari industri game online. Angka tersebut juga menjadikan Indonesia sebagai peringkat dua Asia Tenggara dan peringkat 29 dari 100 negara. Pemain game online Indonesia didominasi oleh perangkat mobile sebanyak 52% dan sisanya menggunakan PC. Dalam hal demografi pengguna, 70% pemain game online di Indonesia berusia 13-17 tahun dan 18-24 tahun.
Disisi lain, survey Entertainment Software Association (ESA), terhadap orang tua sekitar 25% orang tua tidak membatasi penggunaan Internet oleh anak-anak mereka, dan 17% orang tua lebih khusus tidak membatasi waktu anak mereka bermain computer game dan video game.

Penulis : Nur Azizah 
Editor : Helvira Rosa

Thursday, March 29, 2018

Kurang “Dilirik”, Deretan Film Dalam Negeri Ini Cetak Penghargaan Internasional


Beberapa tahun terakhir bisa dikatakan sebagai tahun dimana perfilm-an Indonesia mulai bangkit.

Hal ini didasari oleh makin berkembangnya kualitas dari film itu sendiri dan juga tumbuhnya minat menonton film dalam negeri sendiri yang tinggi dimasyarakat. Sebut saja Dilan 1990, Pengabdi Setan, Ada Apa Dengan Cinta 2, Warkop DKI Reborn, dan masih banyak lagi.

Namun, diantara jajaran film dengan tingkat penonton tertinggi tersebut masih ada segelintir film racikan tangan anak bangsa yang berkualitas namun kurang mendapat apresiasi di negeri sendiri. Apresiasi justru datang dari luar negeri.

Hal ini dapat dilihat dari beragam penghargaan internasional yang didapatkan oleh film-film di bawah ini. Penasaran film apa saja? Yuk, disimak!


Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017)

Credit: cnnindonesia.com

Marlina The Murderer in Four Acts (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak) yang dirilis pada 16 November 2017 adalah film yang berdasarkan kisah nyata seorang janda di Sumba, Nusa Tenggara Barat yang memenggal kepala seorang perampok dan membawanya ke polisi.

Ide cerita ini berasal dari Garin Nugroho. Fillm yang menyuguhkan alur cerita yang tenang namun mencekam ini sayangnya harus lapang dada karena perolehan jumlah penonton yang rendah.

Tapi, film yang dibintangi oleh Marsha Timothy ini tampil diberbagai festival film internasional. Sebelum tayang di Indonesia, film ini diputar perdana di Directors Fortnight Festival Film Cannes 2017. Film ini juga masuk dalam seleksi New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival serta Toronto International Film Festival.


Turah (2016)

Credit: detik.com

Turah adalah film drama Indonesia berbahasa Tegal produksi Fourcolours Films tahun 2016.

Film ini menceritakan tentang kehidupan masyarakat Kampung Tirang di Kota Tegal yang mengalami isolasi selama bertahun-tahun yang kemudian memunculkan berbagai konflik sosial.

Tahun 2016, film ini memenangkan Geber Award dan Netpac Award dalam Jogja-Netpac Asian Film Festival. Namun sayang, dihari pertama pemutarannya di bioskop, film Turah hanya ditonton delapan orang saja.


Babi Buta Yang Ingin Terbang (2016)

Credit: kineforum.org

Pada dasarnya, film Babi Buta Yang Ingin Terbang ini film yang personal, terutama bagi sutradaranya Edwin yang merupakan keturunan Cina. Film Babi Buta Yang Ingin Terbang ini bercerita tentang krisis identitas dan diskriminasi keturunan Cina di Indonesia.

Penghargaan untuk film ini sudah banyak diraih. Di antaranya ada Rotterdam International Film Festival 2009 (Fipresci Prize), Singapore International Film Festival 2009 (Fipresci/Netpac Award), Pusan International Film Festival 2008 (Nominated New Currents Award), Nantes Three Continets Festival 2009 (Young Audience Award), dan Jakarta International Film Festival 2009 (Best Director).


Siti (2014)

Credit: lemonvie.net

Film Siti merupakan film yang berasal dari Indonesia dengan genre drama. Film ini bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Siti (Sekar Sari) yang berumur 24 tahun.

Siti adalah seorang ibu muda yang harus mengurusi ibu mertuanya, Darmi (Titi Dibyo), anaknya, Bagas (Bintang Timur Widodo), dan suaminya, Bagus (Ibnu Widodo).

Film hitam putih ini juga meraih penghargaan sinematografi terbaik dan naskah film terbaik untuk kategori New Asia Talent Competition Festival Film Internasional Shanghai 2015. Singapore International Film Festival 2014 juga memberikan Best Performance for Silver Screen Award kepada Sekar Sari sebagai pemeran Siti. Sayangnya, jumlah penonton film Siti di Indonesia hanya 4 ribuan orang saja.


Pintu Terlarang (2009)

Credit: deptfordcinema.org

Pintu Terlarang (Forbidden Door) merupakan film horor Indonesia yang dirilis pada tahun 2009. Film ini dibintangi antara lain oleh Fachri Albar, Marsha Timothy, Ario Bayu, Otto Djauhari, Tio Pakusadewo, dan Henidar Amroe.  Sayangnya, film ini kurang dilirik saat diputar di bioskop Indonesia.

Meski begitu, film ini berhasil menembus berbagai festival film internasional. Diantaranya adalah Puchon International Fantastic Film Festival 2009 di Korea Selatan, Bangkok International Film Festival 2009, dan Rotterdam International Film Festival.

Film ini juga berhasil dinobatkan sebagai salah satu dari 100 film terbaik dunia versi majalah Sight & Sound Inggris.

Nah itu dia deretan film yang wajib kamu ketahui dan tonton. Semoga dunia perfilm-an Indonesia semakin berkembang!

Selamat Hari Film Nasional!



Penulis: Meidiana Aprilliani
Editor: Nabilla Ramadhian


Sumber: 

Mengulik Industri Kreatif Seputar Game dan Progamming di Compiler 2018

Dokumentasi oleh Meidiana A dan Khairunnisa

 Halo Information Developer! Himpunan Mahasiwa Teknik informatika (HMTIF) Universitas Bakrie kembali menggelar acara Compiler 2018 yang merupakan singkatan dari Computing and Programming with Logic and Creativity.

Tahun ini,  Compiler 2018 mengangkat tema “Be Heroes For The Rise Of The Digital Era”. Sosok musang berkostum superhero dan berkacamata ditunjuk sebagai icon-nya.

“Jangan cuma mengenal teknologi sebatas menggunakan dalam kehidupan sehari-hari, tapi dalam bermayarakat suatu karya dapat digunakan bersama-sama,” ujar Ketua Pelaksana Compiler 2018, Muhammad Fiqih Husein, ketika ditanyai mengenai harapannya bagi para peserta di Universitas Bakrie, Jakarta, Kamis (29/03/2018).

Banyak acara menarik yang ditawarkan Compiler tahun ini, mulai dari Dota 2 Tournament, Web Design Competition, Short Movie Competition, Game Development Workshop, dan Mobile Legend Tournament. 

Menurut Husein, para peserta yang mengikuti lomba bukan hanya berasal dari kawasan Jabodetabek, tapi juga datang dari luar kota, Ada dari jogja, surabaya dan sekitarnya,” ujarnya.

Salah satu keseruan yang terlihat adalah di zona Mobile Legend Tournament. Para peserta dan mahasiswa Universitas Bakrie terlihat sangat antusias melihat para tim yang sedang bermain. Hal ini tentu tidak mengherankan mengingat Mobile Legend sebagai salah satu game online yang populer saat ini.

Lalu, di zona Game Development Workshop, para peserta diajak untuk mengenal game's software dan diajarkan secara detail bagaimana memproduksi animasi dalam permainan. 

Acara yang dimulai sejak 28 Februari sampai 29 Maret 2018 ini berhasil menjadi magnet bagi mereka yang tertarik dalam dunia programming dan informatika serta industri kreatif seputar permainan.



Penulis: Meidiana Aprilliani dan Khairunnisa
Editor: Nabilla Ramadhian

KUMIS: Tragedi Bintaro

Grafik oleh Nabilla Ramadhian

Credit: detik.com

Kalian pasti tidak begitu asing dengan peristiwa kecelakaan yang terjadi antara kereta api jurusan Tanah Abang-Merak yang bertabrakan dengan kereta api jurusan Rangkasbitung-Jakarta Kota.

Peristiwa yang terjadi pada 19 Oktober 1987 silam itu dikenal dengan Tragedi Bintaro. Tragedi Bintaro tercatat sebagai peristiwa kecelakaan kereta api terburuk sepanjang sejarah perkeretaapian Indonesia.

Peristiwa ini juga menyita banyak perhatian publik dunia. Ada beberapa hal mistis seputar Tragedi Bintaro.

Seperti yang dikutip dari Merdeka.com, peristiwa ini telah merenggut 156 nyawa. Dari hasil penyelidikan menyebutkan bahwa terdapat kelalaian pada petugas di Stasiun Sudimara.

Setelah peristiwa itu, perlintasan kereta api arah Bintaro yang lebih tepatnya di kawasan Pondok Ranji mulai dipenuhi cerita-cerita mistis. Salah satunya adalah pada 9 Desember 2013, dimana di lintasan tersebut kembali terjadi kecelakaan kereta menabrak truk tangki milik Pertamina. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dari lokasi kecelakaan Tragedi Bintaro.

Saat itu, kereta Commuter Line Tanah Abang-Serpong bertabrakan dengan truk tangki yang menerobos pintu perlintasan meski sudah diberi aba-aba ada kereta yang akan lewat. Tidak hanya kedua transportasi tersebut yang meledak, tetapi hal itu juga menyambar ke beberapa kendaraan yang ada di sekitarnya. Tujuh orang tewas dalam kejadian itu.

Kisah mistis terus meliputi tragedi kereta Bintaro tersebut.

Salah satu kisah horror diutarakan oleh seorang tukang ojek. Ia menceritakan bahwa rekannya pernah mendapat penumpang yang meminta untuk diantar ke kawasan dekat rel Bintaro.

Belum sampai ke tempat tujuan, rekan tukang ojek ini merasa bahwa penumpang tersebut sudah tidak ada.

Apakah kalian juga pernah mengalami hal mistis lainnya terkait Tragedi Bintaro?



Sumber: Merdeka.com
Penulis: Elly Nur Hafifah
Editor: Nabilla Ramadhian