Popular Posts

Sunday, October 21, 2018

Journalism Day 2018 Hadirkan Bincang Jurnalisme Investigasi Multimedia

Stefanus Teguh Edi Pramono saat menyampaikan materi jurnalisme investigasi dalam talkshow di Journalism Day 2018 pada Sabtu (29/9/2018) di Universitas Bakrie, Jakarta.

JAKARTA – Media Club Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie menggelar acara Journalism Day 2018 yang dilaksanakan pada Sabtu (29/9/2018) di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie, Jakarta. Acara ini merupakan edisi ketiga yang diselenggarakan oleh mahasiswa peminatan Jurnalistik Universitas Bakrie.

Pada sesi talkshow ini turut mengundang Stefanus Teguh Edi Pramono yang merupakan jurnalis investigasi Tempo. 

Dalam kesempatam itu, Pram, sapaan akrabnya bicara tentang pengalamannya dalam meliput berbagai peristiwa yang membongkar suatu isu demi kepentingan publik.

Pram mengatakan menjalani profesi sebagai jurnalis investigasi cukup memiliki risiko yang tinggi.
"Kami seringkali menerima orang-orang yang marah. Bahkan, jangankan investigasi, berita biasa aja kantor kami pernah didatangi panser-panser." katanya.

Salah satu yang menarik adalah ketika ia menampilkan video liputan investigasinya tentang isu prostitusi di Hotel Alexis yang diyakini masih ada hingga saat ini meski sudah dicabut izinnya oleh pemerintah provinsi DKI Jakarta.

Menurutnya, berita investigasi semacam itu masih tergolong mudah untuk digali. Ia juga menambahkan bahwa biasanya satu berita investigasi dapat memakan waktu selama empat bulan dan menguras bujet mencapai puluhan juta rupiah.

"Di Indonesia tidak banyak media yang punya tim investigasi, karena itu (liputan investigasi) mahal, karena itu lama," jawabnya.

Dengan segala tekanan dan risiko yang tinggi, sampai saat ini jurnalisme investigasi masih tetap bertahan. Menurutnya, ini karena keharusan wartawan investigasi untuk membongkar skandal yang meresahkan publik.

"Karena harus ada yang melakukan itu, kalau kemudian tidak ada yang melakukan itu, siapa yang akan melakukan itu," ujarnya.

Pram merupakan wartawan Indonesia yang pernah meraih penghargaan Agence France-Presse (AFP) Kate Webb Prize atas laporannya mengenai perang sipil berdarah Suriah dan perdagangan narkoba di Jakarta pada tahun 2013.



Reporter         : Meidiana Aprilliani
Editor             : Annisa Nurfadila Putri

Media Club UB Kembali Gelar Journalism Day 2018


Heru Margianto saat mengisi materi dalam acara Journalism Day 2018 pada Sabtu (29/9/2018) di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie, Jakarta.

JAKARTA – Media Club Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie kembali mengadakan acara Journalism Day 2018. Tahun ini MeClub UB mengangkat tema  “A New Style Of Multimedia Journalism” yang diselenggarakan pada Sabtu (29/9/2018) di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie.

Acara ini bertujuan untuk mengajak mahasiswa lebih mengenal dan memahami lebih dalam tentang bidang jurnalistik. Kegiatan ini dimulai pada pukul 09.00 WIB, di mana para peserta sudah mulai memenuhi ruangan mulai pukul 08.00 WIB pagi.

Acara ini menghadirkan tiga pembicara di antaranya, Fajar Wahyu Hermawan, merupakan jurnalis Beritagar, Stefanus Teguh Edi Pramono, merupakan jurnalis Tempo, dan Johanes Heru Margianto yang merupakan jurnalis Kompas.com.

Sebanyak kurang lebih 200 peserta ikut serta dalam acara ini. Peserta terdiri dari berbagai kalangan, yaitu mahasiswa, siswa SMA/K, dan umum.

Sesi pertama acara ini membahas tentang perkembangan jurnalisme yang kini merambah ke dunia digital dengan subtema “The New Age of Multimedia Journalism”. Perkembangan Multimedia di era jurnalisme sekarang menjadi bahasan pokok seminar ini.

Materi tersebut disampaikan oleh Fajar Wahyu Hermawan. Usai seminar, peserta dituntut aktif melalui kegiatan grup diskusi dengan membuat konten multimedia melalui berbagai meme yang disediakan oleh panitia acara.

Usai seminar, Journalism Day juga menghadirkan talkshow bertajuk “Investigation Perspective: Discover A Story in Multimedia” yang dibawa oleh Stefanus Teguh Edi Pramono, seorang jurnalis investigasi Tempo yang memiliki pengalaman dalam meliput berbagai kasus investigasi.

Pram, sapaan akrabnya merupakan wartawan Indonesia yang telah memenangkan Agence France-Presse (AFP) Kate Weeb Prize atas laporannya mengenai perang konflik di Suriah juga mengenai perdagangan narkoba di Kampung Ambon, Jakarta.

Sesi terakhir acara ini membahas mengenai jurnalisme “kekinian” dengan subtema “Get to Know About Journalism Issues Nowadays” yang dibawakan oleh Johanes Heru Margianto. Mbonk, sapaan akrab Heru Margianto bicara tentang kondisi jurnalisme saat ini. Di mana liputan tidak hanya dikemas dalam bentuk teks.

Beberapa kali ia memaparkan tentang jurnalisme “kekinian” yang melaporkan informasi melalui platform video blog yang merupakan salah satu elemen dari multimedia.

Acara ini kemudian ditutup dengan hiburan musik dan pemberian souvenir bagi peserta yang berhasil memenangkan konten terbaik pada sesi grup diskusi. Journalism Day 2018 merupakan edisi ketiga. Acara yang digelar oleh mahasiswa peminatan Jurnalistik Universitas Bakrie ini merupakan acara tahunan yang rutin digelar.




Penulis:           Katamala Nurlaili
Editor:            Annisa Nurfadila Putri

Friday, May 25, 2018

KUMIS: Berhenti Sebelum Pukul 2 Pagi Menjelang!

Credit: Tim Infografis MecOnline
Credit: Google.com

Cerita ini merupakan lanjutan dari segmen Kumis minggu lalu yang membahas sosok "Kuyang", jadi bagi yang belom tau langsung visit link-nya dibawah ini ya Marooners :)


Kejadian ini terjadi saat gua masih duduk di bangku SMA kelas 2. Saat itu gua lagi kecanduan banget sama yang namanya baca novel. Apapun jenis novel pasti gua baca apalagi novel-novel bergenre horror lokal.

Malam itu turun gerimis gak berhenti. Dingin, sedikit sumpek  dan sepi, itulah yang gua rasakan saat lagi asiknya baca novel di dalam kamar. FYI, kamar gua letaknya di lantai 2 ujung dan bersebelahan dengan gudang. So, kebayang kan suasananya seperti apa.

Gua mulai ngebaca dari jam 7 malam, dan udah ada feeling sih sebelumnya untuk berhenti baca novel di jam 11 malam. Tapi entah karena keasyikan, gua bablas sampe jam setengah satu pagi. Karena jalan cerita novel yang sedang gua baca lagi asik-asiknya, gua akhirnya memilih untuk lanjut aja.

Gua mulai mencoba untuk konsentrasi baca novel lagi.

Hening.....

Cuma kedengeran jarum detik jam aja yang berbunyi...

Tapi tiba-tiba...

KRIEEEET.... KRIEEET....

Suara pintu terdengar. Gua mengira, mungkin itu dari kamar adik gua yang letaknya di sebelah kamar gua (jadi kamar gua emang di tengah-tengah gudang dan kamar adik).

KRIEET... KRIEET...

Suara itu masih terdengar. Karena malas gerak, gua memutuskan untuk nelpon adik gua buat nyuruh dia jangan main-main sama pintu. Tapi ternyata gak diangkat. Berarti adik gua sedang tidur saat ini. Selagi gua mikir, seketika gua denger suara aneh dari dinding perbatasan kamar gua dan gudang yang bunyinya seperti kucing kejepit.

"Eaaaaak ngggg.... hh...kkkkhkkk..... khhhhhh" 

Kurang lebih gitu bunyinya. Sumpah, waktu denger ini gua seperti merasa pilu banget. Jangan-jangan memang ada kucing nyasar ke gudang gua dan ketimpa barang-barang. Sebelum ke gudang, gua memutuskan untuk dengerin lagi suara tadi dengan cara nempelin kuping ke dinding.

"Eeaaaakkkkk.. khhhh..khhh.." suaranya masih sama. 

Tapi ada sedikit keanehan. Gua merasa suara itu sepertinya bukan suara kucing ya, kenapa suaranya malah seperti bayi menangis?? Bukan! Bukan bayi! Tapi orok!! Shit gua yakin ini suara orok!
Tapi.. orok?? Di gudang gua??? Kok bisa???

Gua makin tenggelam dengan pikiran sendiri. Gua memutuskan gak jadi ke gudang. Seketika nyali gua ciut. Gua cuma bisa dengerin kelanjutan suara-suara aneh tadi di dinding kamar. Hingga akhirnya...

Huhuhu.. HIHIHIHIHIHIHI!! ...

Yaampun! Itu suara kuntilanak bukan sih? Gua panik. Gua langsung lari ke tempat tidur dan selimutan. Gua mencoba tidur walau nyatanya suara itu ngeganggu banget.

.......................................................................................................................


Besok paginya, gua langsung ngadu ke nenek gua. Dan gua cukup ternganga mendengar penjelasannya.

"Oh itu mah bukan suara kucing. Itu suara bayinya kuntilanak. Hmm mungkin dia lagi lapar, makanya sampe nangis-nangis kayak gitu" kata nenek gua sambil nyengir.

Nenek juga bilang, kalau dia pernah liat kuntilanak itu sama bayinya dari samping saat pintu gudang belom ditutup. Bayinya itu berwujud tengkorak dengan muka yang bersimbah darah. Si kuntilanak biasanya membelai-belai si bayi sambil ketawa-tawa biar berhenti menangis.

ASEEM ASEEM!.... dan nyatanya lagi nenek gua bilang bahwa saat jam 2 malam adalah penanda  makhluk itu mulai beraktifitas. 

Dan gua percaya apa yang nenek bilang. Sebab di keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, gua masih denger suara-suara ini saat gua tetap nekat melewati jam 2 pagi dengan kondisi mata terbuka.

Intinya dari cerita gua yang sampai 2 part ini... kalau udah tengah malam, hendaknya kita tidur untuk memberikan makhluk-makhluk dari dunia lain keleluasaan beraktifitas.


~~~~~~~~~



Penulis: Helvira Rosa
Editor: Helvira Rosa
Sumber: Pengalaman Pribadi

KUMIS: Jangan Ke Toilet Bakrie Tower Sendirian, Ya....

Credit: Tim Infografis MecOnline

Kelas malam, huh siapa yang suka? ya, seperti hari senin lainnya di semester ini, aku dapet kelas malam sampai jam 9 malam.

"Ruang berapa ya...," gumamku sambil membuka foto KRS di handphoneku. Biasa, aku emang pikun dan sedikit pemalas menghapal ruang kelas.

"Oh....BT.22," jawabku sendiri sembari berjalan ke kelas.
Sepi, belum ada anak-anak yang masuk ke dalam kelas.

"Jam 18.00, ah pantesan..,".
dingin, senyap. Dua kata yang menggambarkan atmospher kelasku saat itu, bahkan detik jam pun dapat ku dengar jelas.

Dengan perasaan gusar, aku putuskan untuk ke toilet untuk buang air kecil.

tap...tap..tap...

Sepanjang lorong hanya langkahku yang terdengar. Sampai ke toilet, suasananya tak kalah buat ku makin gusar. aku lupa, toilet Bakrie Tower memang remang-remang dan senyap. Aku masuk ke toilet paling pojok, karena toilet pertama sudah bertanda merah (ada orang didalam).

"Srek..srek..." ku dengar suara pakaian dilepas dari samping. aku pun melihat bayangan kaki dari celah bilik. Tak ada perasaan aneh.

"blebekblebekbelek" tombol toilet ku tekan dan aku keluar toilet.
Ku intip toilet samping.

"Hah, kok warna di pintunya masih hijau?, perasaan belom keluar," ujarku dalam hati.
Aku pun membetulkan dandananku sendiri di cermin toilet. Tapi kali ini, bulu kuduku berdiri dari kepala sampai kaki.

"BRAK!!!!"
Pintu toilet yang kumasuki tadi terasa dibanting, tepat dibelakangku.

"ASTAGFIRULLAH," teriaku sambil keluar kamar mandi.
Tapi sial, sesampainya keluar aku baru sadar kalau handphoneku tertinggal di toilet. Ku tengok kanan kiri berharap ada mahasiswa lain disini. Tapi kosong, sepi tidak ada orang.

"Ah bodoamatlah! guega ganggu ini!" Ujarku.

Aku berbalik badan. Ku baca ayat kursi sebelum masuk toilet, tapi dengan bacaan yang sedikit berantakan karena kepanikan yang tidak bisa dibohongi.

"krek........." pintu toilet ku buka, ku tahan beberapa detik untuk memberanikan diri untuk masuk.
Akhirnya aku masuk dan membuka pintu toilet secara cepat, karena ku pikir akan lebih menakutkan bila pintu tersebut kubuka pelan-pelan.

Kosong. kuambil handphoneku segera.
Tapi sial,

"Alohulailahaiyahuwalhayukoyummm...."

Pocong!. duduk di dinding atas toilet sambil meringis dan membaca ayat kursi yang ku baca seadanya tadi. SENYUMNYA LEBAR! MATANYA HITAM! MUKANYA BERANTAKAN! DAN KAKINYA DI AYUN KE KIRI DAN KANAN!!!!!!!!

Aku pun lari compang camping sambil berteriak.
"POCONGGGGGGGG"

Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi pergi ke toilet Bakrie Tower sendirian.
Kamu juga ya.....

Credit : Google.com





Penulis: Meidiana Aprilliani
Editor: Helvira Rosa
Sumber: Pengalaman Pribadi


KUMIS: Jangan Ke Kamar Mandi Saat Maghrib Berkumandang…


Credit : Tim Infografis MecOnline

Credit : Google.com

Kejadian ini berlangsung ketika saya sedang menunggu kelas ‘Jurnalisme dan Isu-isu Kontemporer’ sembari duduk disalah satu bangku dekat Ruang 14.

Jam digital menunjukkan pukul 17:45 WIB. Langit sudah mulai gelap, suasana dari lorong Ruang 12 sampai Ruang 16 sangat sepi. Hanya segelintir manusia yang berada di sana, salah satunya adalah saya yang hendak berdiri untuk pergi ke kamar mandi.

Namun harapan saya yang sangat ingin kamar mandi tersebut kosong seketika kandas saat saya melihat pintu kamar mandi tertutup. ‘Wah, gawat. Lagi kebelet banget lagi. Semoga ini orang gak lama deh di dalam’ pikir saya yang kemudian kembali berjalan menuju tempat yang saya duduki tadi.
Tidak lama, beberapa teman-teman saya datang menghampiri. Kami semua bercanda dengan asyiknya sampai saya lupa kalau saya harus ke kamar mandi. Saya membuka ponsel dan melihat angka menunjukkan pukul 18:00 WIB.

“Tolong jagain sebentar, ya. Gue mau ke kamar mandi dulu,” saya berkata kepada salah satu teman saya sembari mengambil sebungkus tisu yang saya letakkan dibagian terdepan tas.

Saya kembali menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuk beberapa kali. Tidak ada jawaban, tetapi saya mendengar suara siraman air toilet dan aktifitas lain seperti lazimnya seseorang didalam toilet. Karena sepertinya orang ini masih agak lama, saya kembali mengobrol dengan teman-teman.
Pukul 18:10 WIB, datang lagi satu teman saya yang langsung berjalan ke kamar mandi.

“Woi, mau ke kamar mandi?” Tanya saya.
“Iya, kenapa?”
“Itu masih ada orang dari tadi gak keluar-keluar. Coba ketuk deh pintunya.”

Kemudian dia berjalan ke arah pintu kamar mandi dan mengetuk beberapa kali sembari mendekatkan telinga ke pintu. Setelah itu ia kembali menghampiri saya.

“Serius ada orang? Tadi gue denger perasaan kayak kosong, deh.”
“Iya, ini gue udah nunggu 20 menitan tapi gak keluar-keluar itu orang. Tadi udah gue ketuk tapi gak dijawab, tapi tadi pas gue samperin, dari dalam seperti ada yang lagi nyiram air. Tapi kayanya belum selesai soalnya dia berisik gitu di kamar mandi kayak lagi ngambil barang ditas.”

Setelah itu kami berdua menunggu sembari kembali mengobrol dengan teman-teman yang lain. Namun karena saya sudah tahan lagi untuk menahan buang air kecil, akhirnya saya menghampiri ruangan kecil yang terletak di sebelah kanan kamar mandi yang diperuntukkan untuk para staff kebersihan kampus.

Disitu saya melihat ada dua orang pria yang sedang duduk-duduk. Saya mengintip ke dalam dan meminta bantuan untuk memeriksa orang yang sudah hampir 30 menit tidak keluar dari kamar mandi.
Salah seorang staff, sebut saja ‘Mas’, kemudian menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuk beberapa kali. Saat itu teman saya yang juga ingin ke kamar mandi ikut datang untuk melihat tampang manusia menyebalkan yang menggunakan kamar mandi cukup lama.

Ketukan pertama, kami bertiga diam untuk mendengar apakah orang di dalam baik-baik saja. Namun hanya keheningan yang kami dapat. Ketukan kedua membuahkan hasil yang sama. Ketukan ketiga dan keempat pun tidak jauh beda.

Sampai akhirnya,si ‘Mas’ mengeluarkan sederet kunci berlabel dan mengambil salah satu yang bertuliskan “KM”. Disitu saya kaget, bagaimana nantinya reaksi orang di dalam ketika kami buka paksa pintu tersebut.

Setelah dicoba dua kali, akhirnya kunci pintu terbuka dan si ‘Mas’ mengetuk pintu lagi. Namun karena kami tidak mendengar sebuah jawaban, si ‘Mas’ mendorong pintu tersebut.
.
.
.
.
.
Dan saya tertegun karena di dalam tidak ada orang sama sekali. Lalu, siapa yang tadi saya dengar sedang menyiram toilet ketika adzan Maghrib berkumandang?


Penulis: Nabilla Ramadhian
Editor: Helvira Rosa
Sumber: Pengalaman Pribadi

KUMIS : Siapa Yang Menumpang Di Mobilku???


Credit: Google.com

Sebelum memulai cerita ada sebuah pertanyaan yang harus dijawab, diantara kalian apakah ada yang tinggal di daerah Blora? Tepatnya di sebuah Kabupaten bernama Cepu.

Dimana disana sangat akrab dengan pepohonan tinggi, jalanan berkelok, maupun kabut yang selalu ada ketika malam menjelang pagi. Tak heran banyak kejadian aneh maupun kecelakaan terjadi karena jalanan sering tertutup kabut dan membuat pandangan pengemudi sering berkurang.

Sekarang kita masuk ke cerita, dimana seorang gadis merasa mobilnya ditumpangi “sesuatu” ketika tengah mengendarai bersama sang ibu.

“Nanda” harus pergi ke rumah salah satu saudaranya yang akan menikah. Pergi pukul 4 pagi dia menelusuri jalanan yang penuh pohon rindang dan kabut membuatnya harus ekstra berhati-hati karena jalanan masih sangat gelap, dia mengendarai mobilnya dengan santai dan hanya mengandalkan cahaya dari lampu mobilnya saja sampai saatnya tiba masuk ke daerah perbatasan.

Ia mulai merasakan hawa tidak enak, apalagi di jalan itu hanya ada mobilnya sendiri padahal biasanya ada truk atau bis yang sering melewati jalan tersebut. Lewat jembatan pertama dia memencet klakson mobilnya sebagai tanda ‘permisi’, namun dia lupa klakson ketika melewati jembatan kedua sehingga dimarahi oleh Ibunya padahal di situ adalah area kuburan lama.

Setelah itu mobil yang tadinya ringan karena hanya membawa sang Ibu, mulai terasa berat seperti ada tambahan beban. Dia mulai berdoa dalam hati karena semakin masuk ke daerah perbatasan suasana semakin mengerikan, jurang di kanan dan kiri dan tidak ada satupun kendaraan. Nanda tetap mengendarai mobilnya secara perlahan sampai di belokan dia melihat Bis “Garuda Mas” tepat di depannya, dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti bis dari belakang.

 Namun ketika diikuti bis itu malah semakin kencang  seperti tidak mau diikuti, dan dengan terpaksa Nanda mempercepat laju mobilnya karena tidak ingin jalan sendiri. Tak lama ada sebuah truk yang lewat disampingnya dan mendahului bis, namun setelah dilewati oleh truk tadi, bis Garuda Mas yang ada didepannya langsung lenyap seketika. Rasa panik mulai muncul karena  bis yang berada di depannya mendadak hilang namun dia berusaha tenang, beruntung sudah keluar perbatasan dan langit sudah mulai terang.

Pukul setengah tujuh dia sampai di rumah saudaranya, ketika Ibunya turun dari mobil bau kembang mulai menyeruak diseluruh mobil. Rasa dingin mulai menjalar diseluruh tubuhnya sehingga ia tidak berani melihat kaca maupun menoleh ke belakang. Nanda turun dari mobilnya dan disambut keponakannya yang telah menunggu di depan mobil.

“Itu siapa mba yang ada di kursi belakang?”

Pertanyaan anak kecil yang berumur 3 tahun itu membuat merinding, dia langsung menjawab bahwa tidak ada siapa-siapa namun keponakannya minta diajak jalan-jalan dengan mobil dan sepanjang jalan dia gak berhenti ngomong.

“Coba itu yang dibelakang suruh turun dek” suruh Nanda.
“Gak mau dia, nanti katanya turun sendiri”
“Dia cewek, rambutnya panjang, terus senyum kaya gini” keponakan Nanda mengikuti senyumannya.

Nanda yang ketakutan langsung memutar mobilnya untuk kembali kerumah, dan ketika pintu mobil dibuka bau kembang yang sedari tadi ada di dalam Mobil menghilang seketika.

Setelah membaca cerita ini, menurut kalian apakah “mahluk” yang berada di belakang mobil adalah salah satu penghuni yang menghuni area kuburan ketika Nanda lupa mengklakson mobilnya?
Atau ada hal lain?


Penulis: Savira Gian A.D
Editor : Helvira Rosa


Wednesday, May 23, 2018

WEBSITE DAN PERANANANYA BAGI GENERASI MILLENIALS

Gambar 1: Dosen Tamu saat memberikan paparan mengenai SEO dan SEM

Bicara mengenai teknologi, tentu bukan hal yang baru. Saat ini, banyak berubah karena peranan teknologi. Bukan hanya perkembangannya yang semakin canggih, diharapkan para penggunanya pun cerdas memanfaatkan teknologi. 2018 adalah tahun emas bagi generasi  muda. Tak heran kaum millenial memanfaatkan teknologi sebagai kebutuhan berbagi infomasi. Begitu besar peran teknologi terhadap keberlangsungan hidup yang diakses melalui internet untuk kebutuhan pemenuh informasi salah satunya adalah website.

Melihat fenomena ini, Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie mengadakan Guest Lecturer untuk melihat bagaimana teknologi banyak berpengaruh bagi generasi millennial khususnya mahasiswa ilmu komunikasi Universitas Bakrie. Acara yang mengangkat tema Enhaching Digital Marketing Trough Website and SEO Strategy  ini membahas bagaimana website dan bisnis saling berhubungan. Acara yang dilaksanakan pada 22 Mei 2018 di Ruang 1 dan 2 Universitas Bakrie ini, membahas dua topic besar, yaitu Search Engine Marketing (SEM) dan Search Engine Optimization (SEO). Pengisi materi pada Guest Lecturer kali ini adalah dari Gapura Digital yang merupakan program dari Google. Gapuran Digital ini adalah sebuah pelatihan bagi pelaku usaha kecil dan menengah, yang merupakan program yang mendukung Usaha Kecil Menengah dalam memajukan bisnis melalu digital di Indonesia.

Salah satu Dosen tamu pada Guest Lecturer ini, Seorang Project Manager Bangunan dari Gapura Digital, Krisma Wibowo menjelaskan sekitar 85% orang di dunia senang menulis termasuk dirinya. Ia menuturkan bahwa website itu merupakan aset yang sangat penting dimiliki setiap orang selain media sosial. Menurutnya, website merupakan tonggak, dimana setiap orang satu sama lain dapat berinteraksi. “Website itu penting, itu seperti halnya bangunan di dunia asli. Website itu memberi asset digital dimana orang bisa mengunjungi, orang bisa melihat terutama untuk membranding diri sendiri,”. Ujar Krisma.

Selanjutnya, Kurnia Dharmawan selaku Entrepreneur, Educator dan Investor dari Gapura Digital menuturkan, agar website yang kita miliki dapat menjadi website yang pertama atau artikel yang terletak dibagian awal kita harus memperhatikan ketentuan dari SEO dan SEM dari artikel tersebut. Menurutnya, SEO dan SEM sangat berperan penting dalam peningkatan suatu website dimana kalau website tersebut belum memenuhi aturan SEO maka kecil kemungkinan website tersebut akan dikunjungi oleh masyarakat.

Diharapkan, kegiatan Guest Lecturer yang kerap diadakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie dapat meningkatkan ilmu dan manfaat praktis bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie. Di era yang semakin canggih seperti saat ini, diharapkan banyak bisnis yang dapat dilakukan dan dijalankan oleh generasi muda saat ini, dan tidak menutup kemungkinan mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie.





Penulis : Poppy Yendriani
Editor   : Ari Kurnia