Popular Posts

Wednesday, October 8, 2014

Cerita Idul Adha di Perantauan

Anggota Rang Mudo Minang (RMM) Universitas Bakrie sedang membakar sate dalam perayaan Idul Adha, Minggu (5/10).

Perayaan Idul Adha bersama keluarga tentunya merupakan momen yang membahagiakan. Berkumpul dan berbagi suka cita dengan orang-orang tersayang di hari raya terbesar umat Islam itu adalah hal yang selalu ditunggu. Namun, apa jadinya jika perayaan tersebut tidak dilalui bersama keluarga karena jarak jauh yang tidak memungkinkan ditempuh?

Hal ini banyak dialami oleh mahasiswa yang memutuskan melanjutkan studinya di perantauan. Mereka tidak mungkin pulang ke rumah untuk merayakan Idul Adha bersama keluarga karena jarak jauh yang tidak dapat ditempuh dalam waktu yang singkat. Belum lagi besarnya uang yang harus mereka rogoh dan energi yang terbuang jika mereka hanya dapat menikmati kampung halaman dalam waktu singkat karena libur yang pendek.

Lalu, bagaimana mereka merayakan Idul Adha di perantauan? Sebagian mahasiswa Universitas Bakrie memiliki cara tersendiri untuk merayakannya. Mereka yang tergabung dalam Rang Mudo Minang (RMM), paguyuban mahasiswa Universitas Bakrie yang berasal dari Tanah Minang, mengadakan acara bersama untuk merayakan Idul Adha ini.

Minggu malam lalu (5/10), RMM mengadakan acara silaturahmi antaranggota yang berasal dari lintas angkatan Universitas Bakrie di basecamp RMM, Menteng Atas Lontar, Jakarta Selatan. Tahun ini, mereka melaksanakan kurban kambing dari dana iuran yang berhasil dikumpulkan. Mereka berbagi cerita dan bersenda gurau bersama.

“Ya acaranya makan bersama sambil ngobrol-ngobrol. Yang datang Alhamdulillah dari angkatan pendiri (RMM) sampe angkatan yang baru masuk,” ujar Bimo Widdy Saputra, ketua RMM Universitas Bakrie, yang juga berstatus sebagai mahasiswa angkatan 2013.

Tidak hanya makan-makan, mereka juga memasak sendiri makanannya sehingga cita rasa kekeluargaan tetap terasa di perayaan Idul Adha ini. Hal ini memang sengaja dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi di antara anggota.

Bimo menambahkan, perayaan Idul Adha bersama RMM ini selalu dilaksanakan setiap tahun untuk menyambung silaturahmi antaranggota yang jumlahnya cukup banyak. Perayaan Idul Adha tahun ini dihadiri hampir 50 anggota RMM.

Meskipun mereka dapat berbagi kebahagiaan bersama dalam perayaan Idul Adha, diakui Radha Akhsyin Wilson, mahasiswa Universitas Bakrie angkatan 2014, perayaan bersama keluarga dan perayaan bersama RMM tetap memiliki perbedaan. Baginya, ini merupakan perayaan Idul Adha pertama tanpa keluarga.

“Rasanya ada beda, biasanya Idul Adha bareng keluarga, sekarang bareng temen-temen kampus. Ada rasa haru ketika gak Idul Adha bareng keluarga. Bagi saya kerasa banget bedanya, gimana dulu saya Idul Adha bareng keluarga dan sekarang cuma bisa telponan doang,” ujarnya.

Kendati demikian, perayaan Idul Adha bersama RMM sedikitnya dapat mengurangi kesedihan mereka. “Alhamdulillah perayaan sama temen-temen dapat mengurangi rasa sedih saya karena kami di sini juga perayaannya dengan orang Minang. Jadi kami bisa merasakan gimana rasanya Idul Adha di perantauan, nuansa dan suasana minang masih sangat terasa soalnya,” ujar Ade Yusuf, mahasiswa angkatan 2012 yang juga menghadiri perayaan Idul Adha bersama RMM.

Di RMM ini, mereka tidak perlu sungkan untuk berbicara bahasa Minang dan bercerita apapun tentang kampung halamannya. Dengan begitu, mereka bisa merasakan RMM sebagai keluarga dan rumah kedua mereka.

Penulis: Nursita Sari


0 comments:

Post a Comment