Popular Posts

Saturday, March 31, 2018

IN-DEPTH: "Jadi waria harus memiliki prestasi"

Credit: google.com
Tanggal 4 Maret, 2017 merupakan kali pertama Jakarta disuguhi pemandangan yang tidak biasa.
Kerumunan baju pink yang berkumpul di depan Plaza Sarinah yang terdiri dari wanita dan pria feminis, transgender, dan para penyandang disabilitas ini mengikuti aksi Women’s March untuk merayakan Hari Wanita Internasional. Bendera pelangi pun turut mewarnai aksi ini sebagai respresentasi dari kelompok LGBTQ+ Indonesia.
Seperti yang dikutip dari The Jakarta Post, aksi ini tidak hanya mengenai hak wanita. Menurut salah satu panitia, Kate Walton, aksi tersebut dilakukan untuk menyampaikan pesan tentang keadaan politik saat ini yang kurang memperhatikan kelompok marjinal seperti LGBTQ+, penyandang disabilitas, dan indigenous people.
Selain itu, aksi ini juga memberi pencerahan kepada masyarakat awam bahwa di Indonesia terdapat komunitas LGBTQ+ yang masih memperjuangkan hak hidup mereka agar tidak selalu menjadi korban diskriminasi dan kekerasan.
Tahun 2016 merupakan tahun yang gelap bagi kaum LGBTQ+. Dimulai dari petisi yang ditujukan kepada Mahkamah Konstitusi untuk mengkriminalisasi hubungan seksual antar sesama jenis melalui pengadaan amandemen terhadap KUHP Pasal 284, Pasal 285, dan Pasal 292.
“Sejak awal pergerakan gay, pernikahan sesama jenis tidak pernah menjadi tujuan utama. Bagaimana bisa masyarakat LGBT Indonesia menginginkan pernikahan jenis apabila masih banyak dari mereka yang dipukuli, diganggu, dan dipecat dari pekerjaan mereka hanya karna orientasi seksual dan identitas gender mereka?” Ujar aktivis LGBT Hendri Yulius, seperti yang telah dikutip dari The Jakarta Post.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memblokir beberapa aplikasi yang dianggap sebagai safe space oleh kaum LGBTQ+ seperti Grindr, Blued, dan BoyAhoy.
Namun keadaan semakin diperparah dengan kembalinya kampanye anti-LGBTQ+ yang dilakukan oleh Kementrian Pemuda dan Olahraga yang melarang pemuda-pemudi LGBTQ+ mengikuti proses seleksi “Creative Youth Ambassador”, sebuah program untuk memilih masyarakat muda Indonesia untuk mempromosikan kreativitas dan kompetitif.
Serangkaian aksi diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum LGBTQ+ pun terjadi sepanjang tahun 2016.
Namun, yang paling mencengangkan adalah ketika polisi menahan pasangan gay di Sulawesi hanya karena mereka mengunggah foto mereka berdua ke situs Facebook dengan tulisan “With my dear lover tonight. May our love last forever.” Foto tersebut sontak mendapat reaksi dari orang-orang yang tidak suka dengan kaum LGBTQ+ dan melaporkannya kepada polisi setempat dengan tuduhan tindakan cabul dan pornografi.
Dikutip dari BBC, Yuli Rustinawati selaku Ketua Arus Pelangi, mengatakan, “Dalam penelitian kami, terdapat 89,3% kaum LGBT di Jakarta, Yogyakarta, dan Makassar pernah mendapat perlakuan kekerasan dan diskriminasi. Tindak kekerasan kami kategorikan menjadi lima bagian, yakni aspek fisik, psikis, seksual, ekonomi, dan budaya.”
Merupakan peran pemerintah untuk melindungi seluruh masyarakat Indonesia. Tidak terkecuali masyarakat LGBTQ+ yang juga memiliki hak perlindungan dari negara.
Menurut Dede Utomo, aktivis LGBT, dikutip dari BBC, pemerintah Indonesia harus mengakui keberadaan LGBT yang juga adalah warga negara Indonesia. Diskriminasi muncul karena tidak ada peran negara. Kemudian, undang-undang yang bersifat diskriminatif terhadap keberadaan kaum LGBT harus direvisi.
Salah seorang waria, Zedina, mengaku pernah merasakan pelecehan secara verbal oleh seorang tetangga di lingkungan perumahannya. Zedina merupakan seorang waria yang bekerja sebagai lip sync di salah satu club malam di Jakarta.
Bertemu pada Rabu, (12/4/2017), di daerah Cempaka Putih, Jakarta, Zedina kala itu datang mengenakan riasan wajah tebal, jaket berwarna merah marun dan celana khaki berwarna biru langit. Kemudian ia duduk dengan anggun dibangku plastik berwarna merah dan menceritakan kembali kejadian tersebut.
“Dulu di lingkungan rumah ketika awal pindah, aku masih sering-seringnya kerja begitu. (Saya) kalau dijemput pakai mobil. Lalu waktu itu ada kejadian dijemput pakai mobil lalu pas pulang mobilnya beda (merek dan warna). Kebetulan di lingkungan itu suka ada ronda, jadi kayak bahan omongan gitu.”
Menurutnya, orang-orang membicarakannya karena kerap kali ia naik dan turun dari mobil, ia selalu mengenakan pakaian perempuan dan membawa tiga tas berisi pakaian, “Jadi kesannya kayak (saya) habis mangkal di Taman Lawang, ih amit!”
Zedina juga menambahkan bahwa ia tidak terima disebut sebagai waria Taman Lawang karena ia tidak ada kemauan untuk menjual diri dan ingin mendapatkan uang yang halal.
Zedina kenal dengan komunitas ini semenjak duduk dibangku SMA kelas 1 karena dikenalkan oleh temannya ke “Ratu” (yang ia panggil sebagai “Mama”) suatu club malam di Jakarta. Ketika bercerita tentang Mama, matanya berbinar saat mengingat pertama kali mereka bertemu,
“Bertemu di kost-an. Kalau di dunia “itu” disebutnya “Mama”. Waktu itu Mama tanya namanya siapa dan ia bilang (saya) cantik. Kemudian ditawarin untuk tes makeup,” ucapnya. Mulai dari percakapan itulah Zedina ditawari pekerjaan lip sync dan mulai menyadari bahwa ia terlihat cantik menggunakan makeup, wig, dan pakaian perempuan.
Ia mengatakan bahwa pembawaan dia sebagai seorang waria sudah ada sejak dulu, terlepas dari ia sering mengenakan makeup, wig, dan pakaian perempuan untuk bekerja.
“Waktu itu juga sudah “cong”, cuma waktu itu baru “cong” yang cowok banget. Sudah ngondek tapi masih dekil. Gak pernah pakai baju perempuan. Terus juga badan masih laki banget,” ujarnya sambil tertawa.
Kedua orang tua Zedina awalnya tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki pekerjaan disuatu club sebagai lip sync dan didandani sebagai perempuan. Pekerjaannya baru diketahui karena orang tuanya mendapat kiriman foto screenshot oleh saudaranya yang mengikuti akun Instagram Zedina.
Awalnya mereka memang tidak senang. Mereka berharap Zedina mendapatkan pekerjaan yang “benar”. Namun karena dalam dunia tersebut Zedina sudah memiliki nama, ia kekeuh untuk tetap bekerja di sana, “Jadi kalau tiba-tiba hilang begitu saja kan sama saja membuang rezeki dari Allah, kan gak boleh.”
Meskipun Zedina mengaku menyukai berdandan seperti perempuan dan merasa bahwa diri sebenarnya adalah perempuan, ia mengungkapkan kalau dia tidak akan mau merubah fisiknya menjadi perempuan.
Gue sih maunya nanti menikah saja lelaki dengan lelaki, tapi gak mau berubah. Fisiknya laki-laki tetapi cantik dan tidak maskulin. Sama sekali dari dulu tuh gak kepikiran begitu,” ujarnya.
Walaupun dirinya tidak tertarik untuk melanjutkan kuliah, tetapi Zedina tetap ingin mengambil sekolah makeup karena ia teringat dengan pesan Mama yang merupakan sosok role model baginya. Menurut Mama, sebagai seorang waria mereka juga harus memiliki prestasi dan karya.
Apabila mereka memiliki bakat makeup dan bisa lip sync, menurutnya itu sudah menjadi modal mereka. Meskipun sering diolok oleh orang-orang di jalan, mereka akan tetap bangga karena mereka bukan waria pinggir jalan, “Lagian juga kan belum tentu orang yang ngatain bisa sesukses kita.”
Selain pernah mengalami pelecehan secara verbal, Zedina mengaku bahwa sewaktu masih duduk dibangku SMA pernah ada teman lelakinya yang sengaja memperlihatkan alat kemaluannya.
Gue melihat ya alhamdulillah. Lagian juga enggak diseret-seret sampai dibawa ke kamar mandi. Gak pernah sampai dibully. Ya paling kalau ditengah jalan orang mulutnya usil, “Itu cowok kayak perempuan,” begitu doang.”
Melihat aksi Women’s March kemarin, Zedina mengaku dirinya senang melihat ada banyak masyarakat yang mensupport LGBTQ+. Menurutnya, kaum LGBTQ+ bukan untuk dijauhi dan dikucili.
Menurutnya, mereka hidup masing-masing hanya saja berdampingan. Ia merasa aneh melihat orang yang menganggap kaum LGBTQ+ menggelikan. Pasalnya, banyak teman-temannya dalam komunitas tersebut merupakan pilihan dari hati.”
Diskriminasi yang dialami oleh kaum LGBTQ+ bukanlah hal lumrah yang tidak perlu dianggap serius. Masyarakat dan pemerintah harus membuka mata dan tidak bisa berkata bahwa di Indonesia tidak ada diskriminasi untuk minoritas.
Dikutip dari BBC, Presiden Jokowi menegaskan tidak perlu melakukan perubahan terhadap hukum yang ada terkait dengan pertanyaan apakah homoseksualitas akan dipidanakan di Indonesia seperti yang sekarang sedang diusahakan oleh beberapa kalangan di Mahkamah Konstitusi.
Menurutnya, jika ada kalangan minoritas yang terancam, polisi harus melindungi, “Polisi harus bertindak. Tidak boleh ada diskriminasi terhadap siapa pun,” ujarnya.



Editor: Nabilla Ramadhian

0 comments:

Post a Comment