Popular Posts

Saturday, March 31, 2018

IN-DEPTH: Sisi Lain Dari Kisah Si Anak Broken Home

Credit: pinterest.com

Resiliensi ialah kemampuan seseorang untuk beradaptasi dalam kondisi sulit dan bangkit kembali dari pengalaman emosional yang negatif. Faktor dominan kerentanan psikologis terhadap anak salah satunya selalu bermula dari keluarga yang rentan, yang tak punya komitmen dan kesadaran. Sehingga anak tidak mendapatkan role model sebagai teladan.
JAKARTA- Seorang remaja wanita dengan hoodie putih masih mengeluarkan gelak tawanya saat menceritakan keadaan keluarganya. Berbanding terbalik dengan remaja wanita lainnya berbaju hitam, dia terkesan lebih pendiam dengan sorot mata mengawang jauh saat menceritakan kisah keluarganya. Kedua remaja wanita itu diketahui bernama Liza (19) dan Maria (20). Mereka merupakan remaja-remaja yang mengalami keadaan keluarga tidak harmonis (broken home) sedari kecil.
Kalau Liza (hoodie putih) saat ini menjadi hak asuh bagi ayahnya, maka lain halnya dengan Maria (baju hitam) yang menjadi hak asuh bagi ibunya. Di balik penampilan mereka yang tak ada bedanya dengan remaja kebanyakan, terdapat kerentanan psikis dalam hal menahan dan mengatur emosi bagi diri mereka sendiri. Sifat pemarah dan keras kepala adalah salah satu kebiasaan yang sulit mereka tahan. Tak heran karena emosi diri inilah yang terkadang membuat mereka sulit untuk bersosialisasi dan peka terhadap lingkungan sosial.
Kisah Liza dan Maria merupakan contoh nyata bagaimana kehancuran keluarga membawa dampak pada psikis pada remaja dan penting untuk diberi perhatian dan penanganan lebih. Secara umum, banyak anak broken home yang belum mampu keluar dari trauma masa lalu mereka khususnya trauma akan rasa takut ditinggalkan seseorang.
Perkembangan Psikis pada anak Broken Home
Salah satu masalah dalam kehidupan yang dianggap paling berat adalah masalah yang terjadi dalam keluarga. Keluarga inti atau nuclear family adalah suatu wadah dimana anak berkembang dan bertumbuh, baik secara fisik maupun psikologis.
Broken home menurut Asfriyati (2003), (dalam jurnal Resiliensi Pada Remaja yang Mengalami Broken Home), adalah kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan dengan rukun, damai dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran hingga diakhiri dengan perceraian.
Menurut Dagun (1990), (dalam jurnal Resiliensi Pada Remaja yang Mengalami Broken Home),  kondisi keluarga broken home yang mengalami perceraian dapat menyebabkan anak mengalami tekanan jiwa, aktivitas fisik menjadi agresif, kurang menampilkan kegembiraan, emosi tidak terkontrol, dan lebih senang menyendiri.
Ilustrasi Liza (19) dan Maria (20). Sumber: Babe News. 
Maria (20) mengalami broken home sejak usia tujuh bulan. Awalnya ia menyalahkan keadaan keluarganya ini kepada kedua orang tuanya. Maria juga menyatakan sangat dirugikan dengan adanya perceraian tersebut. Karena akibat dari perceraian itu, sedari kecil hingga saat ini ia kerap kesulitan untuk mengontrol emosi, selalu curiga dengan orang yang baru dikenal, sangat protektif dengan apa yang ia miliki, serta mengalami ketakutan akan ditinggalkan seseorang secara berlebihan.
Tentu perceraian mereka merugikan aku dong. Dari kecil aku secara berlebihan selalu merasa takut ditinggal, jadinya sampai sekarang malah jadi protektif banget sama keluargaku apalagi sama pacarku,” Ucap Maria.
Setali tiga uang dengan Liza (19). Mengalami broken home sejak masih mengenyam pendidikan sekolah dasar. Akibat dari perceraian kedua orang tuanya, Liza menjelaskan bahwa ia kesulitan dalam berkomitmen akan suatu hal, bahkan merasa tidak tertarik untuk melakukan pernikahan karena tidak memahami posisi serta peran seorang ibu bagi keluarganya.
Gue sekarang kan tinggal bareng papa, dan papa gue orangnya cuek. Gue juga kesulitan memahami arti berkomitmen yang sebenarnya. Jadinya dari dulu gak bisa jalanin hubungan dengan orang lain secara serius. Lagian gue kayaknya juga gak tertarik buat menikah, lah gue aja bingung dengan peran seorang ibu itu kayak gimana,” Kata Liza.
Indonesia Darurat Perceraian
Data Perceraian di Indonesia 2016. Sumber: Litbang merdeka.com
Tak banyak orang menyadari bahwa tingkat perceraian di Tanah Air merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama (dalam merdeka.com) membenarkan peningkatan tren perpisahan suami istri di negara ini. Berdasarkan data yang diperoleh sejak tahun 2010-2015, terlihat kenaikan angka perceraian mencapai 15 hingga 20 persen.
Adapun rekor angka perceraian tertinggi dalam setahun terjadi pada 2012. Kala itu palu hakim yang mengesahkan perceraian diketok sebanyak 372,557 kali. Artinya, 40 kali perceraian terjadi setiap jam di Indonesia.
Tren tersebut mengkhawatirkan pemerintah, lantaran mengindikasikan rapuhnya institusi perkawinan saat ini. Data tersebut menunjukkan sepertiga penggugat berusia di bawah 35 tahun dan sebanyak 70 persen penggugat adalah perempuan, menandakan para istri di Indonesia berani mengambil sikap jika tak bisa lagi menemukan titik temu untuk memperbaiki rumah tangga.
Maraknya pernikahan muda selama satu dekade terakhir ternyata berbanding lurus dengan tingginya perceraian. Di negara ini, mayoritas pemicu perceraian masih didominasi oleh hubungan yang tidak harmonis lagi antara suami-istri. Dampak sampingannya, yang langsung terasa, adalah gangguan psikologis bagi anak.
Resiliensi Remaja Dalam Menjalani Situasi Broken Home
Meskipun demikian, perceraian yang terjadi pada keluarga broken home tidak selalu membawa pengaruh negatif terhadap anak-anak (De Bord dalam Setyaningrum, 2007). Demo & Acock (dalam Killis, 2003) menyatakan bahwa remaja yang mengalami perceraian orang tua cenderung lebih matang dalam memahami  situasi yang sedang terjadi di sekitarnya.
Resiliensi secara psikologi dapat diartikan sebagai kemampuan merespon secara fleksibel untuk mengubah kebutuhan situasional dan kemampuan untuk bangkit dari pengalaman emosional yang negatif (Block & Block, Block & Kremen, Lazarus dalam Tugade, Fredrickson & Barret, 2005).
Walaupun memiliki kesulitan dalam mengontrol emosi dan membentuk karakter pada diri sendiri, Maria dan Liza nyatanya sama-sama mulai membangun resiliensi pada diri masing-masing. Hal ini bertujuan agar dapat keluar dari situasi menyakitkan yang telah mereka rasakan sejak kecil. Khususnya keluar dari pengalaman emosional negatif karena pernah merasakan ditinggalkan oleh orang yang seharusnya menjadi teladan bagi mereka.
Maria dan Liza mengatakan bahwa pernah ada terbesit niatan untuk mengakhiri hidup dikarenakan mereka merasa tidak berguna pada diri sendiri dan tidak memiliki tujuan untuk mencapai suatu hal.
Aku pernah sih pengen bunuh diri minum obat gitu. Tapi setiap mau ngelakuin, senyumnya mama tuh selalu terbayang dan akhirnya malah bikin aku gak rela juga ninggalin mama sendiri disini tanpa aku nantinya. Yah pokoknya aku belajar menjadi sosok yang lebih kuat aja berkat mama,” Ucap Maria.
Namun mereka dapat menghindari keinginan tersebut berkat orang-orang di dalam lingkungan rumah yang masih mendukung dan mencurahkan kasing sayangnya kepada Maria dan Liza.
Kalau gue dulu kan suka banget main kebut-kebutan motor bareng temen. Pernah sih kepikiran pengen nabrakin diri sendiri. Gue ngerasa udah lelah dengan masalah kayak gini. Tapi setelah ingat nenek gue yang tentunya terguncang lantaran gue cucu kesayangannya jadi gak tega juga. Gue sayang dia banget dan gak bisa kebayang kalau dia meninggal duluan nantinya. Gue malah ngerasa lebih berdosa banget kalau bikin dia sedih,” kata Liza.
Walaupun pengalaman perceraian kedua orang tua yang masih sulit  untuk dilupakan, Liza dan Maria menyatakan mendapatkan hikmah dari kejadian tersebut yaitu menjadi lebih dewasa dan mandiri daripada teman-teman seusianya dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Seperti halnya Maria yang memiliki pandangan optimis mengenai masa depannya, bahwa masa depannya ada ditangannya dan ingin menjadi orangtua yang lebih baik bagi anak-anaknya kelak, serta memberikan hal-hal yang tidak ia dapatkan dari orangtuanya pada saat ini.
Aku sih pastinya mencari pasangan yang bisa bertanggung jawab dan dewasa. Supaya apa yang aku rasain gak akan pernah dirasain anak-anakku kelak,” Ucap Maria.
Sedangkan Liza merasa usaha yang ia lakukan saat ini untuk mewujudkan masa depannya hanyalah dengan belajar, karena melalui belajar ia memiliki banyak pengetahuan yang dapat ia gunakan pada masa yang akan datang dan menjadikan dirinya sukses.
Gue punya cita-cita jadi produser TV, pengen sukses dan bikin papa sama nenek bangga lah,” Ucap Liza.
Kasus Liza dan Maria bisa jadi momentum bahwa dampak broken home tak hanya dilihat dari satu sisi saja. Kasus broken home ternyata punya sisi positif lain, yaitu remaja yang mengalami perceraian orang tua cenderung lebih matang dalam memahami  situasi yang sedang terjadi di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena remaja telah mengalami proses pertumbuhan melalui peristiwa yang menyakitkan ini.

Editor : Helvira Rosa

0 comments:

Post a Comment