Popular Posts

Tuesday, March 13, 2018

Kontroversi Vlog Logan Paul di "Suicide Forest Aokigahara"

Credit: youtube.com
Pada awal tahun 2018 muncul sebuah video viral Youtube mengenai Logan Paul yang mendokumentasikan seorang korban bunuh diri dalam vide blognya (vlog).

Di dalam video tersebut, Logan Paul menemukan badan korban bunuh diri di dalam hutan Aokigahara saat sedang vlogging. Setelah menemukan mayat gantung diri, Logan Paul kemudian berkata bahwa aksi bunuh diri dan sifat depresi merupakan masalah yang serius.

Setelah video tersebut diunggah ke Youtube pada tanggal 31 Desember 2017 lalu, Logan Paul menerima kritik di dunia maya karena mengeksploitasi korban aksi bunuh diri sebagai clickbait untuk mendapatkan viewsVideo tersebut seketika mendatangkan kontroversi secara online mengenai bagaimana Logan Paul meremehkan isu bunuh diri demi menaikan karirnya sebagai seorang Youtuber.

Akun Twitter milik Youtube memberikan pernyataan pada 9 Januari 2018 bahwa mereka menganggap video tersebut tidak dapat ditolerir dan telah melakukan aksi tindak lanjut dengan menghapus video kontroversial oleh Logan Paul. Walau begitu, banyak netizen yang mengkritisi pernyataan ini dan mengetakan bahwa ini adalah sebuah kebohongan karena Logan Paul sendiri yang menghapus video tersebut dan Youtube lah yang pertama kali membiarkan video tersebut masuk ke bagian "Youtube Trending".

Youtube kemudian mematikan fitur pengiklanan pada akun Logan Paul pada 9 Februari 2018 setelah melihatnya mengunggah sebuah video dimana dia menyetrum seekor tikus mati.

Tempat dibuatnya vlog Logan Paul, Aokigahara, adalah sebuah hutan seluas 30 kilometer persegi yang berlokasi di sisi barat laut Gunung Fuji.

Aokigahara disebut sebagai tempat bunuh diri paling terkenal di Jepang. Popularitasnya mendorong pemerintah Jepang untuk menaruh papan di depan jalan masuk hutan tersebut yang memerintahkan pengunjung untuk mencari pertolongan kepada teman dan sanak saudara serta memikirkan perbuatan yang akan mereka lakukan.

Sejak 1970, setiap tahun selalu dilakukan pencarian korban bunuh diri di hutan Aokigahara oleh pihak polisi, sukarelawan dan jurnalis yang mengunjungi.

Hutan Aokigahara merupakan hutan yang dihantui menurut mitologi Jepang. Walaupun hutannya tidak luas, padatnya pepohonan dan kurangnya pencahayaan membuat pendaki dan pengunjung mudah tersesat.

Menurut mitologi Jepang, jika seseorang meninggal dengan perasaan tidak tenang karena emosi yang tinggi seperti amarah atau kesedihan, jiwa mereka tidak bisa meninggalkan dunia ini dan akhirnya berkelana, menghantui siapapun yang ditemuinya. Hantu-hantu ini dinamakan "Yurei".

"Yurei" tidak seperti hantu dalam mitologi barat dimana mereka menginginkan sesuatu yang spesifik, "Yurei" hanya ingin urusan mereka sebelum meninggal diselesaikan agar mereka bisa istirahat dengan tenang. Masyarakat Jepang menganggap bunuh diri sebagai masalah biasa seperti sebagian besar dunia dan pemerintahnya telah menginvestasikan sejumlah besar sumber daya untuk mengendalikan tingkat bunuh diri.

Namun, ada "dukungan budaya" yang cukup besar terhadap aksi bunuh diri yang telah meningkatkan aksi tersebut melalui pengalaman budaya dan sosial yang umum terjadi pada banyak orang Jepang. Sikap masyarakat terhadap aksi bunuh diri bisa dibilang “toleran" dan dalam banyak kejadian, bunuh diri dipandang sebagai tindakan yang bertanggung jawab secara moral.

Toleransi budaya ini mungkin berasal dari fungsi bunuh diri disejarah militer Jepang. Di era feudal Jepang, bunuh diri terhormat (seppuku) di antara Samurai (pejuang Jepang) dianggap sebagai aksi yang dibenarkan atas kegagalan atau kekalahan yang tak terelakkan dalam pertempuran.

Secara tradisional, seppuku bertujuan untuk melepaskan jiwa Samurai kepada musuh dan dengan demikian menghindari eksekusi yang tidak terhormat ditangan musuh. Saat ini, bunuh diri juga disebut sebagai hara-kiri.

Toleransi budaya untuk bunuh diri di Jepang juga bisa dijelaskan dengan konsep Amae, kebutuhan untuk bergantung dan diterima oleh orang lain. Bagi orang Jepang, penerimaan dan kecocokan sosial dinilai lebih tinggi dibanding nilai individualitas seseorang.

Sebagai hasil dari perspektif tersebut, nilai diri seseorang diukur dari bagaimana orang lain menilai sesamanya. Pada akhirnya, ini dapat menyebabkan konsep diri yang rapuh dan kemungkinan pertimbangan bunuh diri meningkat ketika seseorang merasa terasing.

Secara keseluruhan, perhatian masyarakat modern Jepang tentang tingkat bunuh diri yang meningkat cenderung dilihat sebagai isu sosial dan bukan sebagai masalah kesehatan masyarakat. Perbedaannya di sini adalah bahwa budaya Jepang menekankan ketidaksesuaian dalam masyarakat sebagai faktor yang lebih besar dalam keputusan untuk melakukan bunuh diri dibanding kondisi psikologis individual.

Selain itu, stigma negatif seputar perawatan kesehatan mental masih ada di Jepang. Dengan demikian, semakin ditekankan pada reformasi program sosial yang berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi kesejahteraan daripada menciptakan layanan kesehatan mental tertentu.

Maka dari itu Jepang lebih menekan perubahan program sosial yang dapat berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi daripada membuat pelayanan kesehatan mental.



Penulis: Ariabagas
Editor: Nabilla Ramadhian

0 comments:

Post a Comment