Popular Posts

Thursday, March 15, 2018

KUMIS: Rumah Sakit Yang Terbengkalai

Grafik oleh Nabilla Ramadhian
“Apa yang kedua kekasih tersebut lakukan di bangunan rumah sakit yang sudah lama terbengkalai itu?” Mungkin itu pertanyaan yang muncul dibenak setiap orang yang sedang membaca cerita ini.

Alkisah terdapat dua orang yang baru saja pulang kencan dimalam hari. Sebut saja Mayumi dan Tooru. Tidak biasanya Tooru mengajaknya ke taman bermain dan menyebutnya kencan. Malam itu sebelum pergi, Mayumi bercerita pada sahabat sebangkunya, Yuuko, kalau sudah beberapa hari belakangan Tooru bertindak aneh sekali.

“Aku merasa seperti dia sedang kesurupan. Mungkin karena minggu lalu ia mencoba bermain petak umpet sendiri tetapi gagal karena tiba-tiba ayah dan ibunya datang dari Osaka,” ucap Mayumi.

“Mungkin juga karena pengaruh dari Satoo-san yang selalu menceritakan hal-hal misteri yang terjadi di kota ini? Dan dia penasaran akan hal itu. Kau tahu sendiri Tooru sangat gila dengan kota ini,” tangkas Yuuko dengan acuh sembari menggunting kukunya.

Mayumi tidak begitu khawatir lagi dengan Tooru setelah mendengar penjelasan Yuuko, karena ia juga tahu kalau Tooru sangat mencintai kota ini.

///

Malam pun tiba. Tooru menjemput Mayumi dan mereka lekas pergi ke taman bermain tersebut. Karena taman bermainnya sangat dekat dengan rumah Mayumi, mereka berdua memutuskan untuk berjalan kaki.

Setelah menghabisnya banyak waktu bermain permainan-permainan festival yang ada disana, mereka memutuskan untuk menyudahi kencan malam itu.

Ne, Mayumi. Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke taman bermain ini?” Tanya Tooru ketika mereka dalam perjalanan pulang.

“Hmm, tidak tahu. Kenapa? Apa kau sudah mulai bosan dengan mall?”

“Tidak. Kau tahu kan disekitar sini, apabila kau memasuki hutan yang mengelilingi taman, terdapat bangunan besar yang dulu pernah digunakan sebagai rumah sakit?”

“Aku tahu. Dan gedung itu sudah tutup selama 60 tahun. Kenapa?”

“Bagaimana kalau kita masuk kesana? Kalau kau takut, tenang saja! Aku akan melindungimu. Ini aku bawakan senter. Aku sudah mempersiapkan semuanya sebelum menjemputmu tadi,” ujar Tooru sembari memberi senter berwarna kuning pada Mayumi.

“A-ah.. Tunggu, aku kan belum setuju,” sebelum Mayumi selesai berbicara, Tooru sudah berlari menuju hutan dan memasuki gedung tersebut.

Mau tidak mau Mayumi terpaksa mengikutinya karena ia takut pulang sendiri. Bagaimana tidak? Jalanan dari taman bermain menuju rumah Mayumi sangat menyeramkan ketika malam hari. Kanan dan kiri jalan adalah hutan yang sama sekali tidak ada lampu penerangan.

Ketika memasuki gedung, Mayumi bertemu dengan Tooru yang sedang berdiri menunggunya, “Lama sekali sih! Aku kan tidak sabar untuk berpetualang. Kalau kamu takut, kamu bisa berjalan di belakangku. Tapi jangan jauh-jauh, ya! Aku takut nanti kamu hilang.”

Dengan itu, mereka mulai perjalanan menelusuri lorong rumah sakit yang gelap dan berantakan. Sepanjang lorong, banyak sekali barang-barang yang berdebu, sudah using, bahkan Mayumi sesekali melihat tikus yang berjalan mondar-mandir. Namun Mayumi seketika menabrak sesuatu.

“Aduh! Ada apa sih!?” Tanya Mayumi sambil mengusap kepalanya yang kesakitan itu.

“Maaf, aku terkejut ada pintu ruangan yang terbuka. Karena dari tadi kan semua pintu yang kita temui di lorong dikunci dengan rapat. Bahkan dirantai,” ujar Tooru sambil tertawa.

Tooru tanpa basa-basi langsung berjalan masuk meninggalkan Mayumi. Mayumi tidak mau masuk ke dalam karena ruangan tersebut dibandingkan dengan lorong benar-benar sangat gelap. Tidak ada cahaya bulan yang masuk.

Namun, setelah Mayumi menunggu selama 30 menit, ia sama sekali tidak mendengar apapun. Semuanya sangat hening. Langkah kaki Tooru tidak lagi terdengar. Bahkan yang terdengar oleh Mayumi hanyalah nafasnya…

///

Yuuko baru saja selesai mengeringkan rambut ketika dirinya mendengar bunyi telepon yang bordering. Ketika ia mengangkat, ia dengar suara Mayumi yang menangis tersendu-sendu.

“Hei! Kau diapakan oleh Tooru? Sampai menangis sedih seperti itu!”

“Tidak apa-apa. Tapi… Tooru benar-benar bertindak sangat aneh hari ini!” Jawab Mayumi.

Kemudian Mayumi bercerita mulai dari Tooru menjemputnya sampai ketika dirinya ditinggal begitu saja di lorong rumah sakit.

“Aku sudah menunggu sekitar 30 menit… Aku memanggil terlebih dahulu. Tetapi karena Tooru tidak menjawab, ya sudah aku masuk. Aku melihat Tooru sedang berdiri di tengah ruangan. Ketika aku menepuk pundaknya, aku sangat takut! Wajahnya sangat seram. Kedua soket matanya kosong! Darah berlumuran sangat banyak diwajahnya, begitu pula dengan bibirnya yang robek. Berdarah-darah!”

“Mayumi, cepat keluar dari situ! Cepat pergi dari situ!”

“Aku sangat takut. Aku tidak bisa bernafas. Aku sangat sesak. Disini sangat gelap dan hawanya panas sekali. Aku ingin pergi dari sini. Tapi aku tidak tahu caranya. Aku ingin pergi dari sini, Yuuko!” Ujar Mayumi sambil menangis.

“Cepat keluar dari situ! Aku akan menunggumu di rumah!”

“Aku boleh pergi? Aku boleh pergi dari sini? Aku ingin bertemu ibuku. Aku sangat takut. Apakah aku benar-benar boleh pergi dari sini? Hey, Yuuko. Aku benar-benar boleh pergi dari sini, kan? Hey, jawab aku. Aku sangat ingin keluar dari sini. Bolehkah aku pergi?”

Yuuko tidak bisa berkata apa-apa karena sudah mulai merasa ada yang aneh dari Mayumi. Namun karena Mayumi adalah sahabatnya, ia tidak berpikir yang macam-macam. Tetapi, sebelum ia bisa menjawab, ia kaget mendengar pintu rumahnya yang hanya berjarak 4 langkah dari telepon rumahnya tiba-tiba diketuk-ketuk dengan kencang.

“Siapa disana?” Teriak Yuuko.

“Ini aku, Tooru! Aku ingin minta tolong! Mayumi bertingkah sangat aneh ketika kami mulai memasuki gedung rumah sakit yang terbengkalai itu! Tolong bukakan pintunya! Aku akan menjelaskan semuanya!” Tooru meronta-ronta dan terdengar sangat panicksekali seperti ia sedang dikejar oleh sesuatu.

Ketika itu, Tooru mulai menceritakan kejadian yang sama dengan apa yang Mayumi ceritakan ditelepon. Namun yang berbeda adalah Tooru yang menunggu sendirian sementara Mayumi yang nekat masuk ke dalam ruangan gelap itu.

“Hei, Yuuko! Tolong bukakan pintunya! Jangan angkat telepon Mayumi, ia sedang mengelabui kita! Aku tidak tahu apa yang merasukinya tetapi aku sangat takut sekali. Ia seperti bukan manusia! Tolong bukakan pintunya!” Tooru tetap berbicara sambil mengetuk-ngetuk pintu Yuuko dengan sangat kencang.

Saat itu, Yuuko percaya dengan Tooru karena suara Mayumi ketika ia mulai menelepon Yuuko sangatlah aneh. Suaranya sangat lirih dan ia juga merasakan aura aneh ketika Mayumi mulai berbicara mengenai meninggalkan tempat tersebut.

Yuuko memutuskan untuk membukakan pintu untuk Tooru, namun…
Credit: google.com



Sumber: Berdasarkan mitos dan legenda horor Jepang yang ditambahkan sedikit cerita pengantar (adegan sebelum pasangan tersebut memasuki gedung rumah sakit)
Editor: Nabilla Ramadhian

0 comments:

Post a Comment