Popular Posts

Tuesday, March 13, 2018

Pemblokiran Tumblr Oleh Kominfo

Ilustrasi oleh Nabilla Ramadhian
Lagi, lagi, dan lagi pemerintah kembali memblokir situs Tumblr. Ini bukan pertama kalinya Pemerintah melalui Kominfo memblokir situs Tumblr.

Pemblokiran Tumblr ini tidak hanya menjadi perhatian netizen Indonesia, melainkan juga dunia. Seperti yang dikutip dari Detik, media seperti New York Post, Rappler, Latin American Herald dan Bangkok Post juga ikut menyoroti tindakan Kominfo tentang pemblokiran Tumblr.

Menurut Kominfo pada 6 Maret 2018 dalam akun sosial medianya yaitu twitter, Tim Aduan Konten Kominfo menerima aduan masyarakat tentang konten asusila yang ada dalam Tumblr.

Kominfo menjelaskan kalau terdapat lebih dari 360 akun asusila pada Tumblr. Kominfo juga menambahkan alasan kenapa mereka segera memblokir Tumblr. Pihak Kominfo sudah menghubungi Tumblr via email untuk membersihkan platformnya dari konten asusila dalam batas waktu 2×24 jam, tetapi tidak ada respon sama sekali dari pihak Tumblr maka dari itu Kominfo langsung memblokir Tumblr.

Hal ini mendapat banyak respon negatif dari netizen. Karena kebanyakan mereka menyayangkan karena banyak karya khususnya tulisan mereka yang ada di Tumblr.

Kelebihan Tumblr juga membuat para pengguna menyayangkan pemblokiran Tumblr. Tumblr yang lebih simpel dan tidak banyaknya tombol seperti situs blog lainnya memudahkan para pengguna yang tidak ingin ribet dalam menulis blog. Kelebihan kedua dari Tumblr ialah tidak menggunakan hosting, jadi para pengguna hanya menggunakan domain saja dalam mengaksesnya.

Sebenarnya Tumblr memiliki fitur "safe blogging" dimana pengguna bisa menyaring konten-konten negatif yang tidak ingin mereka lihat. Seperti yang dilansir dari Kompas, pengguna yang mengunggah konten eksplisit juga diwajibkan menggunakan tanda untuk kontennya.

Ini kembali lagi kepada tingkat pemahaman para pengguna Tumblr. Karena apabila mereka paham cara menggunakan situs Tumblr dan mematuhi aturan menggunakan internet yg baik, setiap konten yang negatif pastinya bisa dihindarkan.



Penulis: Julia Chatriana
Editor: Helvira Sabrian Rosa

0 comments:

Post a Comment