Popular Posts

Saturday, March 24, 2018

TUTI: Ia Belajar Membaca Dari Bungkus Makanan

Foto oleh Tias Prasetyo


“Berapa kilo lagi?”
“Berapa menit lagi sampainya?”
“Sudah berapa jam kita jalan?”
“Ya Allah jalannya nanjak.”
“Alhamdullilah Turunan.”
“ASTAGFIRULLAH TANJAKAN LAGI.”
“Semangat!!!!” Tiba-tiba tiduran di tanah.
Gak boleh ngeluh!!!!” Tiba-tiba kepikiran pulangnya gimana.

Kira-kira begitulah obrolan kami selama perjalanan menuju Baduy.
Saya, Diah dan Nanda sudah lama merencanakan perjalanan ini. Akhirnya sehabis UTS bulan Mei yang lalu kami langsung meluncur mengunjungi suku yang masih berpegang teguh pada budayanya.

Perjalanan dimulai saat kami berkenalan dengan teman-teman yang akan mengikuti perjalanan dua hari ini. Saya merasa canggung, selain karena kami belum saling kenal, ternyata hanya kami bertiga yang masih kuliah sedangkan yang lainnya adalah pekerja.

Sekitar pukul tujuh pagi, berangkatlah kami berdelapan menggunakan commuter line seharga Rp 5.000 dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkas Bitung. Kami gunakan waktu dua jam di kereta untuk istirahat karena setelah ini, perjalanan yang sesungguhnya akan dimulai.

Pukul sepuluh pagi kami sampai di Stasiun Rangkas Bitung lalu melanjutkan perjalanan dengan menyewa angkot. Selama dua jam kami saling berceloteh penuh tawa hingga mengalahkan rasa mual akibat jalan berkelok dan berbatu sehingga membuat diri kami terguncang dari kursi.

Pukul dua belas siang kami tiba di Desa Ciboleger. Desa ini bisa dibilang perbatasan antara warga “biasa” dan suku Baduy Luar. Disini kami berkenalan dengan Kang Jayadi, warga Baduy Luar, dan Pak Yasrib warga Baduy Dalam. Kang Jayadi dan Pak Yasrib ini yang akan menjadi pemandu kami.

Suku Baduy terbagi menjadi dua, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Baduy Luar memperbolehkan warganya menggunakan kaos, celana jeans dan eletkronik seperti telepon genggam, namun bukan smartphone, melainkan “hp jadul” yang hanya bisa telepon dan SMS. Kalau kata Kang Jayadi “yang penting fungsinya.” Aduh si akang 🙂.

Pukul satu siang kami memulai perjalanan yang sesungguhnya. Menelusuri jalan perbukitan yang naik turun, kadang berbatu dan tanah licin karena sedang diguyur hujan. Satu jam pertama kami masih ‘segar menggelegar’. Dua jam pertama kami mulai sering istirahat tiduran di tanah. Nafas mulai tersenggal-senggal kena senggol badan teman rasanya pengen tampol aja. Tiga jam kemudian mulai banyak pertanyaan “berapa lama lagi?” Mulai ngeluh “gak lagi-lagi deh.”

Tibalah kami di Tanjakan Cinta. Dalam hati berharap di atas sana ada pangeran yang sudah menunggu kami. Oke positive thinking tapi apa daya ternyata kami harus nanjak dengan kemiringan 75 derajat sepanjang 200 meter. Tuh, namanya cinta memang sering nyakitin.

Perasaan tegang karena sebelah kanan adalah jurang, licin dan tidak ada alat bantu sama sekali ditambah beban carier yang kami gemblok. Kami saling bantu dengan mengulurkan tangan, di tanjakan ini kami merasakan artinya team work.
Pak Yasrib tertawa melihat aksi kami melewati Tanjakan Cinta. Sebagai warga Baduy Dalam tentu sudah menjadi rutinitas biasa menembus beribu kilo meter dengan berjalan kaki bahkan bertelanjang kaki. Ini karena warga Baduy Dalam berpegang teguh pada adat istiadat yang sudah turun temurun.

Tidak boleh menggunakan sandal, listrik, pergi ke sekolah formal dan tidak boleh menggunakan angkutan umum. Pakaian yang digunakan pun mereka tenun dan jahit sendiri dengan menggunakan alat tradisional. Warna pakaian hanya boleh dua, hitam dan putih tak lupa ikat kepala sebagai ciri khas Baduy Dalam.

Lima jam sudah kami menempuh perjalanan berliku dengan pemandangan hijau berkabut. Akhirnya sekitar pukul lima sore kami sampai di rumah Pak Yasrib. Rumah panggung berukuran 8×8 meter berdinding bilik bambu dibangun tanpa paku, hanya diikat dengan tali rotan.

Hampir tidak ada barang didalamnya selain peralatan dapur dari tanah liat dan kain sebagai gorden pemisah antara ruang tungku dengan ruang tidur. Semua rumah di desa ini mengusung desain yang sama, tidak lain karena memang peraturan adat.

Badan lengket penuh keringat membuat saya harus segera mandi. Bukan mandi di kamar mandi tapi mandi di semak-semak tanpa pintu hanya ditutupi dedaunan dengan atap langit yang gelap karena hari sudah malam sekitar pukul tujuh sore. Semak-semak itu berukuran 3×3 meter, kami mandi dengan perempuan dari rombongan lain kira-kira berisikan 10 orang.

Kami saling bergantian untuk menjadi ‘pintu’. Aliran air tidak datang dari pipa tetapi dari kayu yang dibentuk menyerupai pipa. Bak mandinya dibuat menyerupai bath up hanya saja terbuat dari kayu. Hanya ada satu gayung terbuat dari batok kelapa berukuran kecil berdiameter 10 cm.

Sungai adalah sumber kehidupan suku Baduy. Mandi, mencuci baju hingga buang air besar pun mereka lakukan di sungai. Tidak ada jamban, turun langsung ke sungai dan kotoran akan mengalir terbawa arus sungai.

“Hormatilah budaya lain” itulah kata yang harus kami amini kepada semua budaya termasuk Baduy Dalam. Dilarang menggunakan elekronik dan aneka bahan kimia seperti sabun. Baduy Dalam sangat menjaga kelestarian alam.

Malam tiba, kami bercengkrama dengan Pak Yasrib ditemani satu buah lampu templok usang serta diiringi suara burung hutan. Pak Yasrib bisa membaca dan menggunakan telepon genggam saat sedang berada di Baduy Luar.

Ia belajar membaca dari bungkus makanan dan meminjam telepon genggam warga Baduy Luar untuk menghubungi wisatawan seperti kami saat mereka berkunjung ke Jakarta untuk sekedar menjual hasil bumi. Baduy Dalam dan Luar mendapatkan uang dari hasil ladang seperti beras, buah-buahan, madu dan yang paling terkenal yakni “durian baduy”.

Sayang sekali saat kami disana sedang tidak musim. Orang tua megajarkan anaknya berladang dari umur lima tahun. Perempuan suku Baduy sebagian ikut turun ke ladang, sebagian lagi membuat kerajinan kain tenun yang akan dipakai sendiri dan dijual ke wisatawan.

Saya penasaran mengapa tidak ada makam sepanjang perjalanan. Ternyata Baduy Luar mengubur jenazah layaknya seorang muslim, dibungkus kain putih lalu menguburkannya ke dalam tanah, namun tidak menggunakan nisan, langsung ditanamkan pohon pisang.

Intinya, jika kita menemukan pohon pisang berarti itu adalah makam. Suku Baduy menganut agama Sunda Wiwitan yang percaya dengan nenek moyang namun toleransi suku Baduy begitu terasa. Mereka membersihkan tempat untuk kami sholat.

Karena suku Baduy menolak segala bentuk modernisasi, urusan soal obat-obatan juga terbuat dari alam. Tidak ada dokter untuk berobat dan juga melahirkan. Disetiap desa terdapat satu orang tabib dan dukun beranak.

Baduy Dalam maupun Luar masih mengadut budaya perjodohan. Buat kamu yang jomblo jangaan takut ga nikah kalau jadi warga Baduy karena dari umur belasan mereka sudaah dikenalkan satu sama lain. Perjodohan bukan berarti harus selalu nurut, Baduy juga sangat demokratis, mereka berhak menolak jika salah satu pihak tidak suka maka akan dicarikan jodoh yang lain.

Pagi pun tiba, rasanya masih banyak yang saya ingin jelajahi dari suku yang menjungjung tinggi adat istiadatnya. Namun, kami wisatawan hanya diizinkan bermalam selama satu hari saja. Kami berkemas dan tak lupa membeli buah tangan berupa madu dan gantungan kunci karya warga Baduy Dalam.

Rasa pegal dibetis masih belum hilang, namun kami harus melanjutkan perjalanan pulang selama empat jam menuju akses jalan utama. Bayangkan empat jam dengan kondisi tanah yang habis disiram hujan, licin, dan rute pulang kali ini didominasi dengan turunana terjal. Kak Nunu teman seperjalanan kami hampir saja masuk jurang karena tanah yang ia pijak tiba-tiba longsor. Untunglah kami semua selamat.

Kalau Amerika punya Liberty, Jakarta punya Monas maka Baduy punya Jembatan Akar sebagai landmar-nya. Tak lengkap rasanya jika tidak berfoto di jembata unik ini. Unik karena jembatan ini terbuat dari akar pohon yang menjalar dan menghubungkan dua daerah yang dipisahkan sungai dibawahnya.

Terlepas dari pemikiran kita sebagai manusia yang katanya ‘modern’, jauh lebih berniali manusia yang melestarikan lingkungannya.



Penulis: Tias Prasetyo
Editor: Nabilla Ramadhian

0 comments:

Post a Comment