Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Psst!

  Doc: Google “Psst!” Ia terkesiap. Pikirannya langsung teringat akan peringatan dari kakek penjaga warung tempatnya membeli kopi sebelum pendakiannya sore ini: “ Kalau kamu tiba-tiba mendengar suara ‘psst’ seperti suara orang memanggil, tapi bunyi itu saja, pokoknya tunggu sampai kamu dengar dia bilang sesuatu. Misalnya ‘Hei,’ ‘halo,’ dan lainnya , itu berarti orang biasa. Kalaupun kamu tidak sengaja langsung menengok ke sumber suara, nunduk! Jangan sampai kamu lihat mukanya. Mati kamu! Pokoknya jangan balas apa-apa, pergi pelan-pelan jalan biasa. Tapi kalau kamu nengok dan ga ada apa-apa, lari.” “Psst!” Sudah dua kali suara tersebut terdengar. Masih belum ada suara lain yang terdengar, bahkan suara binatang malam juga lenyap. Menakutkan. “Psst!” Itu yang ketiga. Keringat dingin sudah mengaliri kening, seraya kakinya berusaha terus berjalan sepelan mungkin. “Psst! Psst! Psst! Psst! Psst! Psst!” Demi tuhan. Ingin cepat-cepat pergi, tapi ia ingat aturan yang diberitahu sang kakek t

Guru

Doc: Google Suatu hari, ada seorang gadis muda bernama Amanda.  Namun, teman-temannya sering memanggilnya dengan sebutan Mandes.  Ia sering tidak ingin pergi ke sekolah. Walaupun ia selalu mendapatkan nilai bagus di sekolahnya, ia selalu bermasalah dengan gurunya. Pada hari pertama ia kembali ke sekolah, Mandes kaget karena ia menemukan seorang guru baru di sekolahnya. Guru tersebut adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahunan dengan ekspresi wajah datar. Tipikal orang tanpa selera humor. Ketika di kelas, teman sebangkunya, Vera, mengacungkan tangannya dan bertanya kepada guru tersebut. “Bu, mengapa tahi lalatmu terus berubah?” Tiba-tiba guru itu tampak bingung.  “Apa yang kau bicarakan?” Tanyanya. “Tahi lalat diwajahmu, mereka terus berubah. Hari Senin anda memiliki satu tahi lalat, tetapi hari Selasa dan Rabu berubah menjadi tiga tahi lalat.” Tutur Vera. Mandes juga ikut memperhatikan, ternyata memang berbeda. Guru tersebut hanya berkata. “Seperti yang kamu lihat, saya hanya memp

Tren

Doc. Google   Ini salah satu cerita nyata saat aku masih SD. Untuk latar belakangnya, pada saat itu, ada tren untuk menusuk kulit jari dengan jarum, yang mana akan membuat jarum tersebut seakan menempel pada jari. Entah apa namanya. Kata teman-temanku, caranya mudah saja. Cukup sehati-hati mungkin menekan ujung jari dengan jarum, kemudian ditusukkan pada kulit jari, hingga ujung jarum tersebut keluar. Banyak juga temanku yang bisa menusukkan banyak jarum pentol warna-warni pada satu jari, sehingga tangannya terlihat ‘keren’ penuh dengan jarum. Hanya saja, kulit tanganku terbilang tipis. Gagal terus saat kucoba melakukannya, sampai jari-jariku suka tampak terkelupas dimana-mana. Suatu sore, aku dan ketiga orang teman perempuanku bersepeda bersama ke SD ku. Karena di area depan gedung SD, para penjual jajanan masih berdagang hingga maghrib tiba. Dari penjual mainan hingga kue-kue tradisional, semuanya ada. Lalu rencananya, kami akan makan jajanan tersebut di kelas, dan main di l